Latar Belakang
Distro, yang merupakan singkatan dari Distribution Outlet merupakan suatu tempat untuk mendistribusikan suatu barang dalam jumah yang terbatas. Jumlah barang yang terbatas inilah yang membedakan distro dengan toko-toko yang menjual produk-produk buatan pabrik. Karena jumlah yang dijual yang terbatas, maka keuntungan jika kita memakai barang-barang distro adalah tidak banyak orang yang memakai barang yang sama seperti kita pakai alias bukan barang pasaran.
Berbagai model pakaian dengan design baru dikeluarkan oleh produsen tiap harinya. Konsumen produk fashion juga semakin antusias menyambut model-model baru yang dirilis. Tak heran berbagai outlet penjualan produk fashion tidak pernah sepi. Maka menjamurlah berbagai bentuk bisnis clothing ini, mulai dari butik, factory outlet, distro, mobile disto dan lain sebagainya.
Seiring dengan berkembang pesatnya mode berpakaian pada jaman sekarang, orang-orang terutama anak muda berusaha tidak ketinggalan jaman dalam hal berpakaian dengan mengikuti mode yang sedang menjadi tren. Dalam berpakaian sehari-hari seolah mereka tidak ingin ketinggalan jaman dengan tren yang saat ini sedang “in”. Bahkan mereka seringkali mencoba ingin menjadi tren setter, dengan berpakaian unik dan kreatif. Hal ini membuat para anak-anak muda berlomba-lomba untuk tidak ketinggalan jaman dalam hal berpakaian.
Untuk menjadi wirausaha tentu kita harus mengerti apa yang sesungguhnya dimaksud dengan usaha, apa tujuan kita menjalankan usaha tersebut, dan bagaimana agar usaha kita dapat berhasil. Usaha adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh keuntungan dan keberhasilan dalam hal keuangan agar dapat memenuhi kebutuhannya pemilik usaha.
Dengan kemampuan bagi banyak pelaku usaha, bisnis distro baik kaos atupun yang lainnya menjadi salah satu alternatif usaha yang bisa dibilang cukup diminati karena potensinya untuk maju sangat besar di jaman seperti sekarang ini. Mengingat lifestyle atau gaya hidup anak muda yang sudah menjadikan pakaian tersebut sebagai atribut atau identifikasi dari ekspresi diri mereka.
Namun demikin dalam menjalankan usahanya, kadang-kadang dunia usaha tidak mampu mencukupi kebutuhan dana bagi pembiayaan usaha jika hanya mengandalkan sumber dana dari dalam sehingga memerlukan dukungan dari perbankan. Oleh karena itu, bantuan dana perbankan juga menjadi salah satu alternatif pedagang untuk menambah modal kerja usahanya.
Hal ini juga dialami oleh usaha kami, kami sebagai pelaku usaha yang baru memulai suatu usaha, keterbatasan modal menjadi masalah utama kami untuk memulai usaha yang akan kami jalankan. Oleh karena itu, kami sangat memerlukan suntikan dana dari pihak perbankan demi tercapainya tujuan visi dan misi kami menjalankan usaha kami ini.
    Analisis Agunan
Untuk melindungi dana yang dikucurkan oleh pihak perbankan untuk tujuan pembiayaan maka pihak perbankan membuat pengamanan. Sebagai bahan pertimbangan pihak perbankan, maka nasabah mengajukan permohonan pembiayaan dengan agunan sebagai berikut:
    Sebidang tanah dan bangunannya, dimana:
    Luasnya adalah 100 m2
    Dengan panjang 20 m dan lebarnya 5 m
    Dengan bangunan sebuah ruko
    Rumah tersebut berada di Jalan Lansat
Adapun transaksi agunan sebagai berikut:
Besarnya permintaan    Jenis jaminan    Harga/nilai pasar    Nilai likuidasi
Rp. 300.000.000    Tanah dan bangunan
    Rp. 500.000.000    90% x 500.000.000
=Rp. 450.000.000
 Nilai pembiayaan = 100
Rasio jaminan = (Nilai Likuidasi)/(Nilai Pembiayaan)×100
    =  
    = Rp. 450.000.000,-
Jadi seorang nasabah layak untuk diberikan pembiayaan sebesar Rp 300.000.000,- (Tiga ratus juta rupiah), karena setelah diadakan rasio jaminan didapat bahwa nilai lebih besar dari pada permintaan pembiayaan.
    Analisis Kelayakan Pembiayaan
Bisnis/usaha dalam kehidupan manusia tidak dapat terlepaskan karena bisnis/usaha dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Dimana dapat dikatakan berhasil dan memberikan keuntungan jika usaha yang dijalankan dapat mengembalikan modal yang telah diinvestasikan dalam jangka waktu tertentu.
Berhasil atau tidaknya bisnis/usaha tersebut untuk menentukan layak atau tidaknya pihak perbankan memberikan pembiayaan terhadap usaha tersebut. Salah satu analisis yang digunakan untuk melihat layak tidaknya usaha ini didirikan yaitu melalui analisis SWOT.
Analisis SWOT
    Adapun yang menjadi kekuatan (strengths)  dari usaha ini adalah:
    Lokasinya yang strategis.
    Produk-produknya unik dan berkualitas.
    Hasil produksi yang selalu update sehingga pelanggan menjadi tertarik, puas dan  loyal.
    Fashionable, yaitu modern dan sesuai dengan mode serta menjadi lifestyle.
    Karena jumlah barang terbatas, maka keuntungan jika kita memakai barang-barang distro adalah tidak banyak orang yang memakai barang yang sama seperti kita pakai alias bukan barang pasaran.
    Adapun yang menjadi kelemahan (weaknesses)  dari usaha ini adalah:
    Harga yang ditawarkan relatif mahal.
    Kurangnya promosi tentang hasil produksi.
    Belum memiliki banyak pelanggan karena kurangnya promosi.
    Manajemen yang masih bersifat sederhana
    Adapun peluang (opportunities) yang ada yaitu:
    Pangsa pasar yang luas.
    Persaingan pasar yang masih terbatas.
    Lokasi usaha yang dekat dengan pusat kota.
    Tingkat permintaan yang selalu bertambah.   
    Dalam menjalankan suatu usaha, pedagang menghadapi yang namanya ancaman dan tantangan (threats). Ancaman dan tantangannya adalah:
    Munculnya pesaing baru dibidang usaha yang  sama
    Kurangnya kepercayaan publik terhadap kualitas barang yang diperjualbelikan
Berdasarkan analisis SWOT diatas, dimana kekuatan usaha ini lebih besar daripada kelemahannya atau S>W, dan peluang yang dimiliki usaha ini lebih besar daripada tantangan yang harus dihadapi atau O>T. Jadi usaha ini mempunyai kekuatan dan peluang yang besar.
    Aspek – Aspek yang Mendukung Pendirian Usaha
Ada beberapa aspek yang perlu dilakukan studi kelayakan untuk menentukan layak tidaknya usaha ini didirikan, dimana masing-masing aspek akan saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Yang artinya apabila salah satu aspek tidak terpenuhi, maka akan dilakukan perbaikan demi kelancaran usaha.
Beberapa aspek-aspek yang perlu dilakukan studi kelayakan adalah sebagai berikut:
    Aspek Hukum
Melalui aspek suatu usaha atau bisnis yang akan mendapatkan pembiayaan harus memiliki kelengkapan dan keabsahan dokumen perusahaan. Adapun surat-surat penting yang dimiliki usaha ini yang dapat diteliti keabsahaannya yaitu:
    Kartu Tanda Penduduk (KTP)
    Kartu Keluarga (KK)
    Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
    Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
    Sertifikat Tanah Hak Milik
    Surat Izin Mendirikan Bangunan (SIMB)
    Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
    Aspek Pasar dan Pemasaran
Dalam kaitannya dengan studi kelayakan usaha suatu proyek, aspek pasar dan pemasaran sangat menentukan hidup matinya suatu usaha. Apabila aspek pasar dan pemasaran tidak diteliti secara benar maka tujuan dari usaha tersebut tidak akan tercapai bahkan mungkin usaha itu terancam bagkrut.  
Analisis aspek pasar dan pemasaran Meliputi strategi pemasaran yang dilakukan. Dalam mendirikan distro harus mencari tempat yang strategis, karena sebagian konsumennya anak muda maka sebaiknya distro dibangun atau didirikan di tempat yang biasa anak muda sering berkumpul.
Dengan cara ini tentu distro yang didirikan akan menarik perhatian bagi para anak muda tersebut dan kemudian mengunjungi distro tersebut. Selain dengan cara tersebut, orang banyak menggunakan internet untuk mempromosikan distronya. Blog dan situs pertemanan sering digunakan untuk memperkenalkan distro yang dia dirikan kepada orang-orang. Selain itu mempromosikan melalui mulut ke mulut juga cukup efektif. Apalagi distro merupakan tempat anak-anak muda berkumpul, pasti mereka akan memberi tahu kepada temannya untuk mengunjungi distro tersebut.
    Aspek keuangan
Aspek yang dinilai dalam aspek keuangan adalah sumber-sumber dana yang dimiliki untuk pembiayaan usahanya serta penggunaan dananya.
Biaya kebutuhan investasi
I   Biaya prainvestasi     Rp   25.000.000,00
II  Pembelian aktiva tetap    
    Pembelian tanah     Rp   70.000.000,00
    Biaya Bangunan dan prasarana    
    Bangunan toko     Rp   50.000.000,00
    Genset 1 buah     Rp     3.000.000,00
    Sarana dan perlengkapan lainnya     Rp   12.000.000,00
    Biaya pembelian peralatan    
    Listrik PLN     Rp     7.000.000,00
    Pengadaan barang dagang      Rp 100.000.000,00
    Investasi toko    
    Lemari kaca      Rp   10.000.000,00
    Telepon      Rp     2.000.000,00
    Komputer      Rp     3.000.000,00
    Meja 1 buah     Rp     1.000.000,00
    Kursi 2 buah
    Gantungan baju     Rp     1.500.000,00
    Patungan baju
    Kantong plastik     Rp     5.000.000,00
Jumlah kebutuhan investasi    Rp  300.000.000,00

                        
                        
 Estimasi Laporan Laba Rugi                         
 Keterangan      Tahun
    2012     2013    2014
 Pendapatan           Rp      100.000.000           Rp      200.000.000           Rp      500.000.000
 Total Biaya      Rp        15.000.000           Rp        10.000.000           Rp          7.000.000     
 Penyusutan      Rp        50.000.000           Rp      140.000.000           Rp      100.000.000     
      Rp        65.000.000      Rp        65.000.000      Rp      150.000.000      Rp      150.000.000      Rp      107.000.000      Rp      107.000.000
 Laba Sebelum Pajak dan Basil (EAIT)           Rp        35.000.000           Rp        50.000.000           Rp      393.000.000
 Pajak 10% dari EAIT           Rp          3.500.000           Rp          5.000.000           Rp        39.300.000
 Laba Setelah Pajak (EAT)           Rp        31.500.000           Rp        45.000.000           Rp      353.700.000
 Basil 50%           Rp        15.750.000           Rp        22.500.000           Rp      176.850.000
 Laba Setelah Basil dan Pajak           Rp        15.750.000           Rp        22.500.000           Rp      176.850.000
 Aliran Kas Bersih           Rp        81.500.000           Rp      185.000.000           Rp      453.700.000

Payback Period (PP)
Dimana masa pengembalian dari investasi untuk usaha ini dapat dilihat melalui perhitungan melalui rumus PP berikut ini:
Investasi     =     Rp300.000.000,-
Kas bersih tahun 1    =    Rp81.500.000,-
        Rp    218.500.000,-
Kas bersih tahun 2    =    Rp185.000.000,-
Belum cukup        Rp    33.500.000,-
Kas bersih tahun 3    =    Rp    453.700.000,-
Kelebihan         Rp    420.200.000,-
PP Tahun 3     =       = 0,9 atau 1 bulan
Maka PP           =  2 tahun 1 bulan
ARR (Average Rate of Return)
Adapun  rata-rata pengembalian bunga dimana melalui perbandingan antara rata-rata setelah pajak (EAT) dengan rata-rata investasi adalah sebagai berikut:
 
 
=  (35.000.000+50.000.000+393.000.000)/3  = 216.000.000
ARR (%)   =   (Rata-rata EAT)/(Rata-rata Investasi)

 
=  150.000.000/216.000.000  = 0,694 = 69,4%

NPV (Net Present Value)
Maka nilai bersih sekarang yang merupakan perbandingan antara PV kas bersih dengan PV investasi selama umur investasi adalah sebagai berikut:
DF tahun 2012    =   1/〖(1+0,20)〗^1    =  0,833
DF tahun 2013    =  1/〖(1+0,20)〗^2    = 0,694
DF tahun 2014    = 1/〖(1+0,20)〗^3   = 0,579
    

Tahun    Kas Bersih    DF (20%)    PV kas bersih
1    Rp        81.500.000    0,833    Rp.        189.507.500,-
2    Rp      185.000.000    0,694    Rp.        173.500.000,-
3     Rp      453.700.000     0,579    Rp.        233.771.250,-
Total PV kas bersih    Rp.       596.778.750,-
Total PV investasi    Rp.        500.000.000,-
Jumlah     Rp.         96.778.750,-

Dari data di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa investasi untuk usaha ini layak untuk dijalankan berdasarkan dari Net Present Value (NPV) didapatkan hasil yang positif.

 
     Aspek teknis/produksi
Dalam aspek ini yang akan diteliti adalah lokasi usaha. Di mana lokasi usaha yang dekat dengan pasar sangat menentukan besarnya omset penjualan. Selain itu teknologi yang digunakan dalam usaha berpegaruh terhadap besarnya laba dan keuntungan yang diperoleh.

    Aspek manajemen/organisasi
Yang dinilai dalam aspek ini adalah para pengelola usaha dan struktur organisasi yang ada. Pemimpin yang profesional, akan dapat membantu lancarya usaha yang dijalankan

    Aspek ekonomi sosial
Melalui aspek ini dapat diketahui pengaruh usaha. terdapat dalam perekonomian salah satunya adalah peningkatan pendapatan masyarakat, baik itu bagi tenaga kerja mapun para pegawainya.

    Aspek dampak lingkungan
Analisis ini merupakan analisis yang paling diibutuhkan karena setiap proyek yang dijalankan akan sangat besar dampaknya terhadap lingkungan sekitarnya.

    Susunan Pengurus
Adapun susunan pengurus dalam usaha toko baju ini adalah:
DISTRO MUSLIM SHOP “Faa”
Pemilik    :    FITRIANI, S.E.Sy.
Kasir    :    RINA MARLINA, S.Hi
Karyawan    :    Bidang Pemasaran     :  ANGGUN SARI
Bidang Penjualan    :  ZAQNI
Bidang Penaksiran    :  DARMA ARIEF
Bidang Penyusunan barang    :  RIZAL SYAHRUL

 
SURAT AKAD SYARIKAH MUDAHRABAH
Bismillahirrahmanirrahim
MUKADDIMAH
“Aku adalah pihak ketiga (Yang Maha Melindungi) bagi dua orang yang melakukan syirkah, selama salah seorang diantara mereka tidak berkhianat kepada kawan syarikatnya. Apabila diantara mereka ada yang berkhianat , maka aku akan keluar dari mereka.”(Hadist Qudsi, Imam Daruquthni dari Abu Hurairah r.a.)
Pada hari, Senin tanggal 21 bulan Desember tahun 2010 di Watampone, yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama    :     RINA MARLINA ARIEF
No. KTP    :     73.0817.591088.0001
Alamat     :     JL Soekawati
Yang selanjutnya disebut sebagai Pihak Pertama
Nama     :     FITRIANI ARIEF, S.E.Sy.
No. KTP    :     73.0816.450589.0012
Alamat     :     JL Lansat
Posisi     :     Pemilik Usaha
Yang selanjutnya disebut sebagai Pihak Kedua
Secara bersama-sama kedua pihak bersepakat untuk mengadakan perjanjian bersyarikat dengan jenis syarikat mudharabah dalam suatu usaha distro dengan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam pasal-pasal sebagai berikut:

 
Pasal 1
Ketentuan Umum
    Pihak Pertama selaku pemilik modal (shahibul maal) menyerahkan sejumlah uang tertentu kepada Pihak Kedua untuk dipergunakan sebagai modal usaha dalam suatu usaha tertentu
    Pihak Kedua selaku pengelola (mudharib) dari Pihak Pertama, mengelola suatu usaha tertentu sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 ayat 1.
    Pihak Kedua menerima sejumlah modal dalam bentuk uang dari Pihak Pertama, yang diserahkan sebelum perjanjian ini disepakati dan ditandatangani oleh pihak pertama.
    Kedua pihak akan mendapatkan keuntungan hasil usaha menurut persentase keuntungan yang disepakati bersama dan menanggung kerugian sebagaimana diatur dalam Pasal 4 dan Pasal 5.
    Masing-masing pihak memiliki andil dalam usaha ini, baik modal/tenaga, yang besar maupun pembagiannya sebagaimana tercantum pada pasal 2,3,4.
Pasal 2
Modal Usaha
    Besar uang modal usaha, sebagaimana disebut pada Pasal 1 ayat 1 adalah sebesar Rp. 300.000.000,-(Tiga ratus Juta Rupiah)
    Modal Pihak Pertama tersebut diserahkan sebelum akad ini ditandatangani, yaitu pada hari Senin tanggal 21 bulan Januari tahun 2013. Bank Syariah Mandiri Cabang Watampone a.n. Fitriani
Pasal 3
Pengelola Usaha
    Pihak Kedua bersama 3 orang muslim yang tergabung dalam satu syarikah al-wujuh secara seksama bekerja mengelola usaha sebagaimana tercantum pada pasal sebelumnya dengan anggota sebagai berikut:
Nama    : ANGGUN SARI
No. KTP    : 73.0809.040889.0189
Alamat    : Jl. Sungai Jenne Berang
Posisi    : Kasir

Nama     : ZAQNI
No.KTP    : 73.0809.711289.0001
Alamat    : Jl. Gatot Subroto
Posisi    : Karyawan bidang pemasara

Nama     : DARMA ARIEF
No.KTP    : 73.0809.131289.0009
Alamat    : Jl. Durian
Posisi    : Karyawan bidang penjualan
    Dalam mengelola usahanya, pengelola bisa dibantu oleh sejumlah staf yang kesemuanya berstatus sebagai karyawan.

Pasal 4
Keuntungan
    Keuntungan  usaha adalah keuntungan bersih (Nett Profit), berupa keuntungan yang diperoleh dari kegiatan usaha (Cash Profit) dikurangi zakat (2,5% ) dari Cash Profit), Sosial (2,5% dari Cash Profit), dan Pengembangan Usaha (20% dari Cash Profit)
    Nisbah keuntungan usaha disepakati sebesar 50:50. Pihak Pertama selaku pemilik modal mendapat 50% dari keuntungan bersih, Pihak Kedua selaku pengelola mendapat 50% dari keuntuungan bersih.

Pasal 5
Kerugian
    Kerugian usaha adalah hasil usaha dikurangi pengeluaran usaha bernilai negatif
    Kerugian usaha ditanggung kedua pihak sesuai dengan hukum Islam syarikah mudharabah

PROPOSAL BISNIS
“faA”
DISTRO MUSLIM SHOP

Oleh :
FITRIANI

STAIN WATAMPONE
2013

SURAT  PERMOHONAN BANTUAN DANA
DISTRO MUSLIM SHOP “ faA “
Alamat : Jalan Lansat Kab. Bone Sulawesi Selatan

Watampone, 01 Januari 2013
No.    :  01/105.5/DMS/C/XI/2013
Hal    : Permohonan Bantuan Dana Usaha
Lampiran    :

Kepada
Yth. Pimpinan BSM Capem Bone-Makassar
Jalan MT.HARYONO
Watampone

    Dengan hormat,
    Melalui  surat ini, kami bermaksud mengajukan permohonan bantuan dana, sebagaimana yang telah diketahui bahwa salah satu permasalahan yang dihadapi dunia usaha adalah keperluan untuk memenuhi kebutuhan dana bagi pembiayaan usahanya. Menanggapi hal tersebut, kami bermaksud menambah perluasan modal untuk lebih meningkatkan usaha distro kami. Bersama dengan surat ini, kami sampaikan permohonan proposal bantuan modal sebesar Rp. 300.000.000,- (Tiga Ratus Juta Rupiah).
    Sebagai bahan pertimbangan bagi bapak, bersama surat ini kami lampirkan:
    Foto Copy KTP
    Foto Copy Kartu Keluarga
    Foto Copy Sertifikat Tanah Hak Milik
    Foto Copy Surat Izin Usaha (SIU)
    Foto Copy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
Besar harapan kami agar permohonan ini dapat terealisasikan sesuai dengan proposal yang ada.
Atas perhatian dan bantuannya, kami ucapkan terima kasih.
                 Hormat Kami
    
     FITRIANI ARIEF, SE.Sy

Makalah Manajemen Koperasi

PERAN KOPERASI
DALAM PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA

Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
 Manajemen Koperasi Pada Semester V Jurusan Syariah
 Program Studi Ekonomi Syariah

Oleh:
FITRIANI
( 01.09.3037 )
Ek.Syar 2

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
WATAMPONE
2011

KATA PENGANTAR
 
    Puji dan syukur di persembahkan ke hadirat allah SWT, karena berkat Taufik dan hidayah-Nya sehingga tema yang menjadi Judul penyusunan makalah ini yaitu “PERAN KOPERASI DALAM PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA” dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarganya dan sahabatnya.
    Penyusunan  makalah ini mencoba memberikan gambaran tentang sistem aliran mu’tazilah dan pengaruhnya serta prinsip-prinsip ajaranya. Namun, demikian di yakini bahwa makalah ini jauh dari sempurna, masih terdapat kekurangan dan kelemahan.
    Menyadari hal demikian itu, penyusun berharap kiranya dapat memberikan saran dan kritik guna perbaikan dan penyempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Akhirnya kita berdoa, mudah-mudahan upaya ini menjadi amal ibadah yang di ridhai Allah SWT.Amiiin……..

Watampone, November 2011

Penyusun,

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL                                    i
KATA PENGANTAR                                ii
DAFTAR ISI                                        iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang                                4
B.    Identifikasi masalah                                 5
C.    Tujuan penulisan                                 5
D.    Manfaat penulisan                                 5
BAB II PEMBAHASAN
A.    Koperasi Di Indonesia                            6
B.    Fungsi dan peran koperasi Indonesia                        8
C.    Prinsip koperasi                                9
D.    Koperasi berlandaskan hukum                        10
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan                                     11
B.    Saran                                        12
DAFTAR PUSTAKA                                    13

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pembangunan koperasi mengalami kemajuan yang cukup mengembirakan jika diukur dengan jumlah koperasi, jumlah anggota, aktiva dan volume usaha.
Pada masa sekarang secara umum koperasi mengalami perkembangan usaha dan kelembagaan yang mengairahkan. Namun demikian, koperasi masih memiliki berbagai kendala untuk pengembangannya sebagai badan usaha. Hal ini perlu memperoleh perhatian dalam pembangunan usaha koperasi pada masa mendatang.
Perkembangan koperasi secara nasional di masa datang diperkirakan menunjukkan peningkatan yang signifikan namun masih lemah secara kualitas. Untuk itu diperlukan komiten yang kuat untuk membangun koperasi yang mampu menolong dirinya sendiri sesuai dengan jatidiri koperasi. Model pengembangan koperasi pada masa datang yang ditawarkan adalah mengadobsi koperasi yang berhasil seperti Koperasi Kredit, Koperasi simpan pinjam dan lainnya  dan Model Pengembangan Pemecahan Masalah sesuai dengan kondisi koperasi seperti  penataan kelembagaan koperasi yang tidak aktif dan koperasi aktif tidak melaksanakan RAT. Untuk memberdayakan koperasi baik yang sudah berjalan dan tidak aktif perlu dibangun  sistem pendidikan yang  terorgniser dan harus dilaksanakan secara konsesten untuk mengembangkan organisasi, usaha dan mampu bersaing dengan pelaku usaha lainnya.Inilah salah satu nilai koperasi yang tidak ada pada organisasi lain yang perlu terus dilaksanakan dan dikembangkan.

B.    Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut,diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut:
1.    Pengertian koperasi ?
2.    Bagaimana perkembangan koperasi di Indonesia?
3.    Bagaimana fungsi dan peranan koperasi terhadap perkembangan ekonomi Indonesia?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan makalah ini adalah:
1.    Untuk mengetahui apa itu koperasi
2.    untuk mengetahui perkembangan koperasi di Indonesia
3.    peranan koperasi terhadap perkembangan ekonomi Indonesia
D.    Manfaat Penulisan
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat member kontribusi dalam
mengembangkan ilmu ekonomi manjemen khususnya fungsi dan peranan koperasi terhadap perkembangan ekonomi Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Koperasi Di Indonesia
Koperasi adalah organisasi bisnis yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang-seorang demi kepentingan bersama. Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.
Koperasi di Indonesia, menurut UU tahun 1992, didefinisikan sebagai badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.Di Indonesia, prinsip koperasi telah dicantumkan dalam UU No. 12 Tahun 1967 dan UU No. 25 Tahun 1992. Prinsip koperasi di Indonesia kurang lebih sama dengan prinsip yang diakui dunia internasional dengan adanya sedikit perbedaan, yaitu adanya penjelasan mengenai SHU (Sisa Hasil Usaha).
Sejarah singkat gerakan koperasi bermula pada abad ke-20 yang pada umumnya merupakan hasil dari usaha yang tidak spontan dan tidak dilakukan oleh orang-orang yang sangat kaya. Koperasi tumbuh dari kalangan rakyat, ketika penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme semakin memuncak. Beberapa orang yang penghidupannya sederhana dengan kemampuan ekonomi terbatas, terdorong oleh penderitaan dan beban ekonomi.
Pada tahun 1896 seorang Pamong Praja Patih R.Aria Wiria Atmaja di Purwokerto mendirikan sebuah Bank untuk para pegawai negeri (priyayi). Ia terdorong oleh keinginannya untuk menolong para pegawai yang makin menderita karena terjerat oleh lintah darat yang memberikan pinjaman dengan bunga yang tinggi. Maksud Patih tersebut untuk mendirikan koperasi kredit model seperti di Jerman. Cita-cita semangat tersebut selanjutnya diteruskan oleh De Wolffvan Westerrode, seorang asisten residen Belanda. De Wolffvan Westerrode sewaktu cuti berhasil mengunjungi Jerman dan menganjurkan akan mengubah Bank Pertolongan Tabungan yang sudah ada menjadi Bank Pertolongan, Tabungan dan Pertanian. Selain pegawai negeri juga para petani perlu dibantu karena mereka makin menderita karena tekanan para pengijon. Ia juga menganjurkan mengubah Bank tersebut menjadi koperasi.
Pada tahun 1908, Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan peranan bagi gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat peraturan Verordening op de Cooperatieve Vereeniging, dan pada tahun 1927 Regeling Inlandschhe Cooperatieve.
Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi.
Namun, pada tahun 1933 keluar UU yang mirip UU no. 431 sehingga mematikan usaha koperasi untuk yang kedua kalinya. Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi kumiyai. Awalnya koperasi ini berjalan mulus.Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat Jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan rakyat Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.
B.    Fungsi dan peran koperasi Indonesia
Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa koperasi memiliki fungsi dan peranan antara lain yaitu mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota dan masyarakat, berupaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia, memperkokoh perekonomian rakyat, mengembangkan perekonomian nasional, serta mengembangkan kreativitas dan jiwa berorganisasi bagi pelajar.
Peran koperasi dalam perekonomian Indonesia paling tidak dapat dilihat dari:
a.    kedudukannya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor,
b.    penyedia lapangan kerja yang terbesar,
c.    pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat,
d.    pencipta pasar baru dan sumber inovasi, serta
e.    sumbangannya dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor. Peran koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah sangat strategis dalam perekonomian nasional, sehingga perlu menjadi fokus pembangunan ekonomi nasional pada masa mendatang.
Pemberdayaan koperasi secara tersktuktur dan berkelanjutan diharapkan akan mampu menyelaraskan struktur perekonomian nasional, mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional, mengurangi tingkat pengangguran terbuka, menurunkan tingkat kemiskinan, mendinamisasi sektor riil, dan memperbaiki pemerataan pendapatan masyarakat. Pemberdayaan koperasi juga akan meningkatkan pencapaian sasaran di bidang pendidikan, kesehatan, dan indikator kesejahteraan masyarakat Indonesia lainnya.
Sulit mewujudkan keamanan yang sejati, jika masyarakat hidup dalam kemiskinan dan tingkat pengangguran yang tinggi. Sulit mewujudkan demokrasi yang sejati, jika terjadi ketimpangan ekonomi di masyarakat, serta sulit mewujudkan keadilan hukum jika ketimpangan penguasaan sumberdaya produktif masih sangat nyata. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peran koperasi antara lain :
1.    Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khusunya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
2.    Berperan serta aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.
3.    Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional.
4.    Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
C.    Prinsip koperasi
Prinsip koperasi adalah suatu sistem ide-ide abstrak yang merupakan petunjuk untuk membangun koperasi yang efektif dan tahan lama. Prinsip koperasi terbaru yang dikembangkan International Cooperative Alliance (Federasi koperasi non-pemerintah internasional) adalah:
1.    Keanggotaan yang bersifat terbuka dan sukarela
2.    Pengelolaan yang demokratis,
3.    Partisipasi anggota dalam ekonomi,
4.    Kebebasan dan otonomi,
5.    Pengembangan pendidikan, pelatihan, dan informasi.
Di Indonesia sendiri telah dibuat UU no. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian. Prinsip koperasi menurut UU no. 25 tahun 1992 adalah:
1)    Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
2)    Pengelolaan dilakukan secara demokrasi
3)    Pembagian SHU dilakukan secara adil sesuai dengan jasa usaha masing-masing anggota
4)    Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
5)    Kemandirian
6)    Pendidikan perkoperasian
7)    Kerjasama antar koperasi
D.    Koperasi berlandaskan hukum
Koperasi berbentuk Badan Hukum menurut Undang-Undang No.12 tahun 1967 adalah [Organisasi] ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama, berdasarkan asas kekeluargaan. Kinerja koperasi khusus mengenai perhimpunan, koperasi harus bekerja berdasarkan ketentuan undang-undang umum mengenai organisasi usaha (perseorangan, persekutuan, dsb.) serta hukum dagang dan hukum pajak.
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULA
Koperasi adalah organisasi bisnis yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang-seorang demi kepentingan bersama. Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.
Koperasi di Indonesia, menurut UU tahun 1992, didefinisikan sebagai badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Di Indonesia, prinsip koperasi telah dicantumkan dalam UU No. 12 Tahun 1967 dan UU No. 25 Tahun 1992. Prinsip koperasi di Indonesia kurang lebih sama dengan prinsip yang diakui dunia internasional dengan adanya sedikit perbedaan, yaitu adanya penjelasan mengenai SHU (Sisa Hasil Usaha).
Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa koperasi memiliki fungsi dan peranan antara lain yaitu mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota dan masyarakat, berupaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia, memperkokoh perekonomian rakyat, mengembangkan perekonomian nasional, serta mengembangkan kreativitas dan jiwa berorganisasi bagi pelajar bangsa. Koperasi juga sebagai pencipta pasar baru dan sumber inovasi, serta sumbangannya dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor. Peran koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah sangat strategis dalam perekonomian nasional, sehingga perlu menjadi fokus pembangunan ekonomi nasional pada masa mendatang.
B.    SARAN
Dalam makalah ini informasi mengenai PERAN KOPERASI DALAM PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA masih belum lengkap, sehingga diharapkan informasi lebih lanjut dari pembaca agar dapat melengkapinya. Dan Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak terlepas dari hambatan. Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritik dari teman-teman yang sifatnya membangun untuk pembuatan makalah selanjutnya. Semoga hal-hal yang telah kami angkat sebagai pembahasan dapat menjadi pedoman atau acuan bagi teman-teman untuk bisa mengkaji masalah tersebut.
    

DAFTAR PUSTAKA
Di kutip dari http://www.anneahira.com/manajemen koperasi/pengertian-manajemen koperasi.htm –
Dikutip dari http://berita-public.blogspot.com/2008/11/ruanglingkup  manajemen koperasi .html-
sumber: http://haxims.blogspot.com/2009/12/5-peranan-manajemen koperasi-dalam-perkembangan-perekonomian.html

KATA PENGANTAR
    Puji dan syukur di persembahkan ke hadirat allah SWT, karena berkat Taufik dan hidayah-Nya sehingga tema yang menjadi Judul penyusunan makalah ini yaitu “Lingkungan Dalam Islam” dengan mengangkat 4 Judul artikel yang berkaitan dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarganya dan sahabatnya.
    Penyusunan  makalah ini mencoba memberikan gambaran tentang peta permasalahan lingkungan hidup dari sudut pandang perspektif islam serta sekaligus menawarkan alternatif pemecahannya. Namun, demikian di yakini bahwa makalah ini jauh dari sempurna, masih terdapat kekurangan dan kelemahan.
    Menyadari hal demikian itu, penyusun berharap kiranya dapat memberikan saran dan kritik guna perbaikan dan penyempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Akhirnya kita berdoa, mudah-mudahan upaya ini menjadi amal ibadah yang di ridhai Allah SWT.Amiiin……..

Watampone, 5 Maret 2010

penyusun
 

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1        PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
B.    Rumusan masalah
C.    Maksud dan Tujuan
Bab 2    PEMBAHASAN
A.    Prinsip Etika Lingkungan Hidup Dalam Islam
B.    Islam Dan Penyelamatan Lingkungan
C.    Tanggapan /Pendapat Manusia Terhadap Persoalan Lingkungan Hidup di Indonesia
D.    Kegiatan Penghijauan Masyarakat Yang di Lakukan Oleh Beberapa Negara
Bab 3    PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.    Saran –saran
DAFTAR PUSTAKA
 
BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Lingkungan merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia. Lingkungan ini di huni oleh komponen ekosistem baik manusia, hewan, tumbuhan, maupun makhluk abiotik lainnya. Setiap anggota komunitas sosial mempunyai kewajiban untuk menghargai kehidupan bersama, demikian pula setiap anggota komunitas ekologis harus menghargai dan menghormati setiap kehidupan spesies dalam komunitas ekologis itu serta mempunyai kewajiban moral untuk menjaga kehesivitas dan integritas komunitas ekologis, alam tempat hidup manusia ini.
Akan tetapi permasalahan lingkungan di indonesia sangat mengkhawatirkan akibat ulah-ulah tangan manusia itu sendiri bahkan berujung pada bencana. Misalnya kebakaran hutan yang hampir menjadi tahunan di kalimantan dan sumatra yang mengakibatkan hancurnya hutan longsor yang terjadi di beberapa daerah dan mengakibatkan kerugian tidak hanya materi tetapi juga nyawa.  Semua bencana lingkungan , baik banjir, longsor maupun lainnya selama ini selalu di hubungkan dengan takdir atau kehendak Tuhan. Tuhanlah yang mengakibatkan terjadinya bencana dan Tuhanlah yang di jadikan alasan terakhir manusia ketika terjadi bencana tersebut, karena ada keyakinan umat beragama bahwa bencana adalah cobaan atau siksaan yang diberikan Tuhan kepada umat manusia. Agaknya pemahaman umat islam terhadap teologi lingkungan masih sangat minim, mereka tersadar ketika bencana alam datang. Namun, kesadaran tersebut juga bukan kesadaran akan apa yang telah dilakukan terhadap lingkungannya malah kesadaran bahwa mereka tidak taat ibadah dan lupa terhadap tuhannya. Padahal kalau kita tarik sejarah, Nabi memerintahkan sahabatnya ketika akan berlaga dalam medan perang untuk tidak merusak pohon bahkan memotong dahan atau ranting pohon. Oleh karena itul,kita harus kembali ke ajaran agama untuk terus menjaga lingkungan kita.
Burlinton,vermont di pedalaman Jawa Tengah.pulau terdapat di indonesia, terdapat bentuk gerakan lingkungan hidup yang tidak biasa. Di bayangi oleh gunung merapi dan di kelilingi oleh sawah dan ladang tebu yang subur, sebuah sekolah kecil mencetak para aktivis lingkungan hidup yang komitmennya terhadap bumi tidak di landaskan pada buku teks konservasi dari barat,tetapi lebih di dasarkan kepada nilai-nilai Islam.
B.    Rumusan Masalah
1.    Apa prinsip-prinsip etika lingkungan hidup dalam islam ?
2.    Bagaimana konsep atau cara islam dalam menyelamatkan lingkungan hidup ?
3.    Bagaimana pendapat manusia terhadap lingkungan hidup di indonesia
4.    Seperti apa kegiatan penghijauan masyarakat yang dilakukan oleh beberapa negara ?
C.    Maksud Dan Tujuan Penulisan
Dari berbagai prinsip-prinsip etika lingkungan hidup dalam islam, konsep atau cara islam dalam menyelamatkan lingkungan hidup, dan pemikiran manusia terhadap persoalan lingkungan hidup terutama di indonesia serta kegiatan penghijauan masyarakat yang dilakukan oleh beberapa negara merupakan pembahasan menarik untuk di bahas untuk mengetahui
 

BAB II
PEMBAHASAN

1)    PRINSIP ETIKA LINGKUNGAN HIDUP DALAM ISLAM
Lingkungan merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia. Sehingga lingkungan harus dipandang sebagai salah satu komponen ekosistem yang memiliki nilai untuk dihormati, dihargai, dan tidak disakiti, lingkungan memiliki nilai terhadap dirinya sendiri. Integritas ini menyebabkan setiap perilaku manusia dapat berpengaruh terhadap lingkungan disekitarnya. Perilaku positif dapat menyebabkan lingkungan tetap lestari dan perilaku negatif dapat menyebabkan lingkungan menjadi rusak. Integritas ini pula yang menyebabkan manusia memiliki tanggung jawab untuk berperilaku baik dengan kehidupan di sekitarnya. Kerusakan alam diakibatkan dari sudut pandang manusia yang anthroposentris, memandang bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta. Sehingga alam dipandang sebagai objek yang dapat dieksploitasi hanya untuk memuaskan keinginan manusia, hal ini telah disinggung oleh Allah SWT dalam Al Quransurah Ar Ruum ayat 41:
 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar merekakembali(kejalanyangbenar).

Luas hutan di Indonesia adalah sebesar 120,35 juta hektar, terdiri dari hutan produksi 66,35 juta hektar, hutan lindung 33,50 juta hektar, hutan konservasi 20,50 juta hektar. Penutupan vegetasi di dalam kawasan hutan mencapai 88 juta hektar (Sinar Harapan, 2008). Tutupan hutan di Indonesia memiliki luas sebesar 130 juta hektar, menurut World Reseach Institute (sebuah lembaga think tank di Amerika Serikat), 72 persen hutan asli Indonesia telah hilang, berarti sisa luasan hutan Indonesia hanya sebesar 28 persen. Kemudian data Departemen Kehutanan sendiri mengungkapan bahwa 30 juta hektar hutan di Indonesia telah rusak parah, atau sebesar 25 persen(Khofid, 2004). Data-data ini menunjukan bahwa kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, telah mencapai tingkat yang parah. Sehingga berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan pendidikan lingkungan untuk mengubah sudut pandang dan perilaku manusia.
Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus dipenuhi saat manusia berinteraksi dengan lingkungan hidup. Prinsip-prinsip ini terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut. Berikut adalah prinsip-prinsip yang dapat menjadi pegangan dan tuntunan bagi perilaku manusia dalam berhadapan dengan alam, baik perilaku terhadap alam secara langsung maupun perilaku terhadap sesama manusia yang berakibat tertentu terhadap alam:
1.SikapHormatterhadapAlam(RespectForNature)
Di dalam AlQur’an surat Al-Anbiya 107, Allah SWT berfirman:
 
Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Rahmatan lil alamin bukanlah sekedar motto Islam, tapi merupakan tujuan dari Islam itu sendiri. Sesuai dengan tujuan tersebut, maka sudah sewajarnya apabila Islam menjadi pelopor bagi pengelolaan alam dan lingkungan sebagai manifestasi dari rasa kasih bagi alam semesta tersebut. Selain melarang membuat kerusakan di muka bumi, Islam juga mempunyai kewajiban untuk menjaga lingkungan dan menghormati alam semesta yang mencakup jagat raya yang didalamya termasuk manusia, tumbuhan, hewan, makhluk hidup lainnya, serta makhluk tidak hidup.
Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Seperti halnya, setiap anggota komunitas sosial mempunyai kewajiban untuk menghargai kehidupan bersama (kohesivitas sosial), demikian pula setiap anggota komunitas ekologis harus menghargai dan menghormati setiap kehidupan dan spesies dalam komunitas ekologis itu, serta mempunyai kewajiban moral untuk menjaga kohesivitas dan integritas komunitas ekologis, alam tempat hidup manusia ini. Sama halnya dengan setiap anggota keluarga mempunyai kewajiban untuk menjaga keberadaan, kesejahteraan, dan kebersihan keluarga, setiap anggota komunitas ekologis juga mempunyai kewajiban untuk menghargai dan menjaga alam ini sebagai sebuah rumah tangga.
2. Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility For Nature)
Terkait dengan prinsip hormat terhadap alam di atas adalah tanggung jawab moral terhadap alam, karena manusia diciptakan sebagai khalifah (penanggung jawab) di muka bumi dan secara ontologis manusia adalah bagian integral dari alam. Sesuai dengan firman
AllahdalamsurahalBaqarah:30
 
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.
Kenyataan ini saja melahirkan sebuah prinsip moral bahwa manusia mempunyai tanggung jawab baik terhadap alam semesta seluruhnya dan integritasnya, maupun terhadap keberadaan dan kelestariannya Setiap bagian dan benda di alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya masing-masing, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak. Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari alam semesta, bertanggung jawab pula untuk menjaganya.
3.Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)
Terkait dengan kedua prinsip moral tersebut adalah prinsip solidaritas. Sama halnya dengan kedua prinsip itu, prinsip solidaritas muncul dari kenyataan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Lebih dari itu, dalam perspektif ekofeminisme, manusia mempunyai kedudukan sederajat dan setara dengan alam dan semua makhluk lain di alam ini. Kenyataan ini membangkitkan dalam diri manusia perasaan solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain.
4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian terhadap Alam (Caring For Nature)
Sebagai sesama anggota komunitas ekologis yang setara, manusia digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi. Kasih sayang dan kepedulian ini juga muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota komunitas ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat. Sebagaimana dimuat dalam sebuah Hadis shahih yang diriwayatkanolehShakhihain:
 
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak seorang pun muslim yang menanam tumbuhan atau bercocok tanam, kemudian buahnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak, kecuali yang dimakan itu akan bernilai sedekah untuknya.”
Dalamhadislaindijelaskan
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah dua perbuatan yang mendatangkan laknat!” Sahabat-sahabat bertanya, ”Apakah dua perbuatan yang mendatangkan laknat itu?” Nabi menjawab, “Orang yang buang air besar di jalan umum atau di tempat berteduh manusia

Rabu, 05-12-2007
2)Islam dan Penyelamatan Lingkungan
Krisis lingkungan sudah sampai pada tahap yang mengancam eksistensi bumi sebagai tempat tinggal manusia dan makhluk lain.  Krisis lingkungan yang terjadi saat ini sebenarnya bersumber pada kesalahan fundamentalis-filosofis dalam pemahaman ataucara pandang manusia terhadap dirinya, alam, dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Kesalahan itu menyebabkan kesalahan pola perilaku manusia, terutama dalam berhubungan dengan alam.  Aktivitas produksi dan perilaku konsumtif gila-gilaan melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif. Di samping itu, paham materialisme, kapitalisme, dan pragmatisme dengan kendaraan sains dan teknologi telah ikut mempercepat dan memperburuk kerusakan lingkungan.
Upaya untuk penyelamatan lingkungan telah banyak dilakukan baik melalui penyadaran kepada masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholders), upaya pembuatan peraturan, kesepakatan nasional dan internasional, undang-undang maupun melalui penegakan hukum. Penyelamatan melalui pemanfaatan sains dan teknologi serta program program teknis lain juga telah banyak dilakukan. Islam mempunyai konsep yang sangat jelas tentang pentingnya konservasi, penyelamatan, dan pelestarian lingkungan. Konsep Islam tentang lingkungan ini ternyata sebagian telah diadopsi dan menjadi prinsip ekologi yang dikembangkan oleh para ilmuwan lingkungan. Prinsip-prinsip ekologi tersebut telah pula dituangkan dalam bentuk beberapa kesepakatan dan konvensi dunia yang berkaitan dengan lingkungan. Akan tetapi, konsep Islam yang sangat jelas tersebut belum dimanfaatkan secara nyata dan optimal. Maka, harus segera dilakukan penggalian secara komprehensif tentang konsep Islam yang berkaitan dengan lingkungan serta implementasi dan revitalisasinya. Konsep Islam ini kemudian bisa digunakan sebagai dasar pijakan (moral dan spiritual) dalam upaya penyelamatan lingkungan atau bisa disebut sebagai “teologi lingkungan”. Sains dan teknologi saja tidak cukup dalam upaya penyelamatan lingkungan yang sudah sangat parah dan mengancam eksistensi dan fungsi planet bumi ini. Permasalahan lingkungan bukan hanya masalah ekologi semata, tetapi menyangkut teologi. Pusat perhatian
Pengertian “teologi” dalam konteks ini adalah cara “menghadirkan” dalam setiap aspek kegiatan manusia. Dalam bahasa lain, teologi dapat dimaknai sebagai konsep berpikir dan bertindak yang dihubungkan dengan “Yang Gaib” yang menciptakan sekaligus mengatur manusia dan alam. Jadi, terdapat tiga pusat perhatian (komponen) bahasan yakni Tuhan, manusia, dan alam, yang ketiganya mempunyai kesatuan hubungan fungsi dan kedudukan. Jadi, teologi hubungan antara manusia dan alam dengan Tuhan adalah “konsep berpikir dan bertindak tentang lingkungan hidup yang mengintegrasikan aspek fisik (alam termasuk hewan dan tumbuhan), manusia dan Tuhan” Realitas alam ini tidak diciptakan dengan ketidaksengajaan (kebetulan atau main-main) sebagaimana pandangan beberapa saintis barat, tetapi dengan rencana yang benar al-Haq (Q.S. Al-An’am: 73; Shaad: 27; Al-Dukhaan: 38-39). Oleh karena itu, menurut perspektif Islam, alam mempunyai eksistensi riil, objektif, serta bekerja sesuai dengan hukum yang berlaku tetap (qodar). Pandangan Islam tidak sebagaimana pandangan aliran idealis yang menyatakan bahwa alam adalah semu dan maya.
Pandangan Islam tentang alam (lingkungan hidup) bersifat menyatu (holistik) dan saling berhubungan yang komponennya adalah Sang Pencipta alam dan makhluk hidup (termasuk manusia). Dalam Islam, manusia sebagai makhluk dan hamba Tuhan, sekaligus sebagai wakil (khalifah) Tuhan di muka bumi (Q.S. Al-An’am: 165). Manusia mempunyai tugas untuk mengabdi, menghamba (beribadah) kepada Sang Pencipta (Al-Kholik). Tauhid merupakan sumber nilai sekaligus etika yang pertama dan utama dalam teologi pengelolaan lingkungan. Konsep lingkungan Asas keseimbangan dan kesatuan ekosistem hingga saat ini masih banyak digunakan oleh para ilmuwan dan praktisi lingkungan dalam kegiatan pengelolaan lingkungan. Asas tersebut juga telah digunakan sebagai landasan moral untuk semua aktivitas manusia yang berkaitan dengan lingkungannya. Akan tetapi, asas keseimbangan dan kesatuan tersebut masih terbatas pada dimensi fisik dan duniawiah dan belum atau tidak dikaitkan dengan dimensi supranatural dan spiritual terutama dengan konsep (teologi) penciptaan alam. Jadi, terdapat keterputusan hubungan antara alam sebagai suatu realitas dan realitas yang lain yakni yang menciptakan alam. Dengan kata lain, nilai spiritualitas dari asas tersebut tidak terlihat. Islam merupakan agama (jalan hidup) yang sangat memerhatikan tentang lingkungan dan keberlanjutan kehidupan di dunia. Banyak ayat Alquran dan hadis yang menjelaskan, menganjurkan bahkan mewajibkan setiap manusia untuk menjaga kelangsungan kehidupannya dan kehidupan makhluk lain dibumi. Konsep yang berkaitan dengan penyelamatan dan konservasi lingkungan (alam) menyatu tak terpisahkan dengan konsep keesaan Tuhan (tauhid), syariah, dan akhlak. Setiap tindakan atau perilaku manusia yang berhubungan dengan orang lain atau makhluk lain atau lingkungan hidupnya harus dilandasi keyakinan tentang keesaan dan kekuasaan Allah SWT. yang mutlak. Manusia juga harus bertanggung jawab kepada-Nya untuk semua tindakan yang dilakukannya. Hal ini juga menyiratkan bahwa pengesaan Tuhan merupakan satu-satunya sumber nilai dalam etika. Bagi seorang Muslim, tauhid seharusnya masuk ke seluruh aspek kehidupan dan perilakunya. Dengan kata lain, tauhid merupakan sumber etika pribadi dan kelompok, etika sosial, ekonomi dan politik, termasuk etika dalam mengembangkan sains dan teknologi.
Di dalam ajaran Islam, dikenal juga dengan konsep yang berkaitan dengan penciptaan manusia an alam semesta yakni konsep Khilafah dan Amanah. Konsep khilafah menyatakan bahwa manusia telah dipilih oleh Allah di muka bumi ini (khalifatullah fil’ardh). Sebagai wakil Allah, manusia wajib untuk bisa merepresentasikan dirinya sesuai dengan sifat-sifat Allah. Salah satu sifat Allah tentang alam adalah sebagai pemelihara atau penjaga alam (rabbul’alamin). Jadi sebagai wakil (khalifah) Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan bertanggung jawab untuk menjaga bumi. Artinya, menjaga keberlangsungan fungsi bumi sebagai tempat kehidupan makhluk Allah termasuk manusia sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupannya.
Manusia mempunyai hak atau diperbolehkan untuk memanfaatkan apa-apa yang ada di muka bumi (sumber daya alam) yang tidak melampaui batas atau berlebihan (Al-An’am: 141-142). Manusia baik secara individu maupun kelompok tidak mempunyai hak mutlak untuk menguasai sumber daya alam yang bersangkutan istilah “penaklukan” atau “penguasaan” alam seperti yang dipelopori oleh pandangan barat yang sekuler dan materialistik tidak dikenal dalam Islam. Islam menegaskan bahwa yang berhak menguasai dan mengatur alam adalah Yang Maha Pencipta dan Maha Mengatur yakni Rabbul Alamin. Hak penguasaannya tetap ada pada Tuhan Pencipta. Manusia wajib menjaga kepercayaan atau amanah yang telah diberikan oleh Allah tersebut. Dalam konteks ini, alam terutama bumi tempat tinggal manusia merupakan arena uji bagi manusia. Agar manusia bisa berhasil dalam ujiannya, ia harus bisa membaca “tanda-tanda” atau” ayat-ayat” alam yang ditujukan oleh Sang Maha Pengatur Alam. Salah satu agar manusia mampu membaca ayat-ayat Tuhan, manusia harus mempunyai pengetahuan dan ilmu. Lingkungan alam ini oleh Islam dikontrol oleh dua konsep (instrumen) yakni halal dan haram. Halal bermakna segala sesuatu yang baik, menguntungkan, menenteramkan hati, atau yang berakibat baik bagi seseorang, masyarakat maupun lingkungan. Sebaliknya segala sesuatu yang jelek, membahayakan atau merusak seseorang, masyarakat dan lingkungan adalah haram. Jika konsep tauhid, khilafah, amanah, halal, dan haram ini kemudian digabungkan dengan konsep keadilan, keseimbangan, keselarasan, dan kemaslahatan maka terbangunlah suatu kerangka yang lengkap dan komprehensif tentang etika lingkungan dalam perspektif Islam. Konsep etika lingkungan tersebut mengandung makna, penghargaan yang sangat tinggi terhadap alam, penghormatan terhadap saling keterkaitan setiap komponen dan aspek kehidupan, pengakuan terhadap kesatuan penciptaan dan persaudaraan semua makhluk serta menunjukkan bahwa etika (akhlak) harus menjadi landasan setiap perilaku dan penalaran manusia. Kelima pilar etika lingkungan tersebut sebenarnya juga merupakan pilar syariah Islam. Syariah yang bermakna lain as-sirath adalah sebuah “jalan” yang merupakan konsekuensi dari persaksian (syahadah) tentang keesaan Tuhan. ***
Penulis :Oleh H. HIKMAT TRIMENDA
Aktivis di Lembaga Bina Lingkungan (Lembing) dan wakil ketua pimpinan cabang Muhammadiyah Sumur Bandung
3) TEOLOGI LINGKUNGAN HIDUP
  Sumbangan Pemikiran untuk Hari Bumi 22 April 2007
“Telah nampak kerusakan di darat dan lautan
disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (kejalan yang benar )
(Q.S. Ar-Rum [30]: 41)
persoalan lingkungan di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan, bahkan sudah berujung pada bencana. Misalnya adalah kebakaran hutan yang hamper menjadi tahunan di Kalimantan dan Sumatera yang mengakibatkan hancurnya hutan. Longsor yang terjadi di beberapa daerah dan mengakibatkan kerugian tidak hanya materi tapi juga nyawa. Banjir yang melanda—tidak hanya—sebagian besar wilayah Jakarta baru-baru ini yang membuat lumpuh Ibukota selama setidaknya dua hari dengan kerugian triliunan rupiah. Krisis lingkungan tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi sudah menjadi krisis dunia, karena semua negara memiliki persoalan lingkungan, walau tingkat kerusakannya berbeda. Semua bencana lingkungan, baik banjir, longsor, maupun lainnya selama ini selalu dihubungkan dengan takdir atau kehendak Tuhan. Tuhan lah yang mengakibatkan terjadinya bencana dan Tuhan lah yang dijadikan alasan terakhir manusia ketika terjadi bencana tersebut, karena ada keyakinan umat beragama bahwa bencana adalah cobaan atau siksaan yang diberikan Tuhan kepada umat manusia. Akhirnya banyak orang berbondong-bondong ‘lari’ ke masjid untuk kembali berdoa, bertobat dengan mencucurkan air mata. Semua kejadian bencana lingkungan sepenuhnya dilimpahkan kepada Tuhan sebagai penyebab, bukan manusia.
Padahal menurut laporan Millennium Ecosystems Assessment Report (2005), manusia saat ini sedang membinasakan sistem yang mendukung kehidupan mereka sendiri dalam taraf yang mengkhawatirkan. Data menunjukkan bahwa manusialah yang menjadi penyebab perubahan iklim, meracuni udara, air, dan tanah; sehingga kesehatan manusia—dan banyak spesies lainnya—yang ada ikut terancam keberadaannya. Selain itu, ledakan populasi dalam abad 20 dari 2 menjadi 6 milyar penduduk akan menyebabkan kendala yang akan berbenturan dengan masalah sumberdaya alam.
Para ilmuwan telah mendokumentasikan bahwa kita hidup di tengah ancaman kepunahan periode keenam, yang diindikasikan oleh banyaknya spesies yang punah pertahun. Sekarang ini, dinyatakan lebih dari 10.000 spesies punah setiap tahun Itu bermakna bahwa periode ini adalah sama dengan lajunya kepunahan spesies dalam 65 juta tahun, di mana saat itu dinosaurus turut musnah. Dengan kata lain, kita sedang mematikan sistem kehidupan kita sendiri di planet bumi dan mendahului era geologis yang sedang berjalan. Pertanyaannya adalah mengapa manusia tidak peduli dengan lingkungannya sendiri. Jika dikaitkan dengan Islam, apakah ajaran Islam cukup memadai untuk menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan hidup (hifz al-bi’ah)? Agaknya menjadi keharusan bagi kalangan ulama dan akademisi untuk merumuskan apa yang disebut dengan teologi dan fikih lingkungan (fiqh al-bi’ah). Jika kita membaca Al-Qur’an, dipastikan akan banyak ditemukan ayat yang berbicara tentang air, udara dan tanah. Bahkan, menurut Ali Yafie di dalam buku terbarunya “Merintis Fikih Lingkungan Hidup”, tidak kurang 95 ayat yang berbicara tentang lingkungan beserta larangan-larangan Allah untuk berbuat kerusakan. Untuk menyebut di antaranya adalah Al-Baqarah/2:11, 12, 27, 30, 60, 220, 251; Ali Imran/3: 63; Al-Maidah/5: 64; dan Al-A’raf/7:56, 74, 85, 86, 103, 127, 142. Demikian pula hadist-hadist Nabi yang berbicara tentang lingkungan hidup juga tidak sedikit. Di dalam buku yang telah disebut di muka Ali Yafie mencatat 12 hadist yang secara langsung memberi panduan moral dan hukum tentang perlunya menjaga lingkungan.
Dalam Islam, rujukan untuk mengatur lingkungan hidup telah jelas termaktub dalam kitab suci, bahkan pernyataan bahwa terjadinya kerusakan di bumi dan di laut disebabkan oleh manusia juga sangat jelas ada di dalam al-Qur’an. Namun kenapa banyak orang Islam tidak memiliki sensivitas terhadap lingkungannya? Padahal agamanya mengajarkan dan memerintahkan untuk menjaga lingkungan, melarang melakukan perusakan terhadap lingkungan, namun yang terjadi sebaliknya. Banyak umat Islam yang mengabaikan ajaran tersebut. Pemahaman umat Islam terhadap teologi lingkungan masih sangat minim, mereka tersadar ketika bencana alam datang. Namun, kesadaran tersebut juga bukan kesadaran akan apa yang telah dilakukan terhadap lingkungannya malah kesadaran bahwa mereka tidak taat ibadah dan lupa terhadap Tuhannya. Pemahaman keagamaan sebagian umat Islam terhadap perusakan ekosistem masih dianggap sebagai sesuatu yang sangat biasa dan tidak merupakan dosa besar. Padahal kalau kita tarik sejarah, Nabi memerintahkan sahabatnya ketika akan berlaga dalam medan perang untuk tidak merusak pohon bahkan memotong dahan atau ranting pohon—di antara larangan membunuh musuh yang menyerah, perempuan, anak-anak dan orang tua. Demikian juga ajaran dalam ibadah haji, bahwa umat Islam ketika sedang melakukan ibadah haji—khususnya ketika wukuf di Arafah—dilarang untuk merusak tanaman dan tumbuh-tumbuhan termasuk membunuh binatang. Sebagai refleksi, mari kita kembali merenungi apa yang telah kita lakukan, apa yang telah terjadi pada kita, terutama bencana yang sering terjadi. Kita harus kembali ke ajaran agama untuk terus menjaga lingkungan kita.
Jakarta, 22 April 2007
Muhammad Nuruzaman, Lingkar Studi CS
Rukan Permata Senayan No.A/6
Jln.Tentara Pelajar, Patal Senayan
Jakarta 12210, Indonesia
Telp. (021) 579 40610, Fax. (021) 579 40611
http://www.csrindonesia.com, e-mail: office@csrindonesia.coms

Madrasah Hijau Indonesia
oleh Saleem H. Ali
08 Februari 2008
Burlington, Vermont – Di pedalaman Jawa Tengah, pulau terpadat di Indonesia, terdapat bentuk gerakan lingkungan hidup yang tidak biasa. Dibayangi oleh Gunung Merapi dan dikelilingi oleh sawah dan ladang tebu yang subur, sebuah sekolah kecil mencetak para aktivis lingkungan hidup yang komitmennya terhadap bumi tidak dilandaskan pada buku-buku teks konservasi dari Barat, tapi lebih didasarkan kepada nilai-nilai Islam. Sang kepala sekolah, Nasruddin Anshari, kerap mengulang kalimat “satu bumi bagi semua”, sebanyak dia biasa mengucapkan “Allahu Akbar”.
Sekolah pesantren di Indonesia telah dicermati sedemikian rupa beberapa tahun belakangan, akibat anggapan adanya hubungan antara pesantren dengan insiden terorisme seperti bom Bali pada tahun 2005. Bahkan kandidat presiden Barack Obama merasa harus menjauhkan diri dari masa-masa kecilnya di Indonesia, karena bertiupnya rumor bahwa dia pernah bersekolah di pesantren, oleh sebab ayah kandung maupun ayah tirinya adalah Muslim.
Namun transformasi yang bertempat di Pesantren Lingkungan Giri Ilmu pasti akan menyenangkan para pemilih di Barat. Anak-anak dari desa Bantul belajar tentang pentingnya melindungi ekosistem mereka sebagai tanda keimanan pada Tuhan.  Tak jauh dari pesantren yang ramah lingkungan ini, Universitas Perdamaian yang amanatkan PBB mengadakan workshop selama sepekan mengenai pendidikan perdamaian dalam konteks Islam pada November 2007 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Para cendekiawan dari sejumlah negara Islam berkunjung untuk mempertimbangkan berbagai dimensi pendidikan perdamaian dan mengembangkan rancangan pelajaran untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah Islam.  Islam sebagai agama yang terorganisir muncul di lingkungan gurun pasir Arabia, dan sejak itu perhatian yang sungguh-sungguh diberikan kepada masalah-masalah ekologi dalam etika Islam.
Meskipun teologi Islam bukanlah panteisme, dan memiliki banyak persamaan antroposentris dengan agama-agama Ibrahim lainnya, namun ada semacam penghormatan terhadap alam, yang berasal dari pragmatisme esensial dalam agama tersebut. Karena kelangkaan sumber daya, umat Muslim awal menyadari bahwa pengembangan jangka panjang hanya dimungkinkan dalam pemeliharaan ekologi yang dilakukan oleh seluruh umat manusia. Karenanya, kesemestaan sumber-sumber daya lingkungan hidup menyediakan model yang berharga untuk membangun perdamaian. Walau demikian, ada beberapa tantangan sistemik terhadap realisasi paradigma pengembangan berkelanjutan dalam Islam kontemporer. Pertama, keyakinan Islam bahwa manusia adalah mahluk Tuhan yang paling utama, menghadapi tantangan serius untuk menanamkan etika lingkungan hidup, terutama berhubungan dengan hak-hak binatang. Namun, terdapat sejumlah perintah tentang tanggung jawab yang muncul seiring dengan status sebagai “mahluk utama.” Konsep khalifah mensyaratkan para khalifah untuk merawat/mengurus bumi dan semua mahluk di atasnya. Kedua, fokus kepada kehidupan sesudah mati daripada masa kini telah membuat banyak Muslim menganggap tantangan lingkungan hidup dan pembangunan sebagai hal yang sepele. Hal ini mengarah pada puas diri dan fatalisme tentang masalah dalam pembangunan, karena hal itu dianggap sebagai takdir Tuhan. Tapi fatalisme ini tak lagi meresap di antara umat Muslim yang taat di Indonesia. Sekolah-sekolah Islam di negara Islam terbesar di dunia ini menyadari bahwa ibadah yang paling besar adalah memelihara sumber daya alam tempat kehidupan semua mahluk bertumpu. Seperti halnya bunuh diri dilarang dalam Islam karena penghargaan yang mendalam terhadap kesucian jiwa, begitu pula halnya dengan merusak sistem pendukung kehidupan yang membuat planet kita begitu unik.
Di luar Indonesia, ada beberapa tanda perubahan positif yang menjanjikan. Islamic Foundation for Ecology and Environmental Science, yang berbasis di Birmingham, Inggris, sedang mengembangkan sejumlah program untuk institusi-institusi keagamaan di negara-negara Islam di seluruh dunia. Pada akhir 2006, US Agency for International Development meluncurkan program pendidikan lingkungan hidup di Tanzania yang menargetkan 12.650 murid sekolah dasar dan 12.650 murid madrasah, melatih 220 guru sekolah dasar dan 220 guru madrasah tentang masalah-masalah ekosistem pantai dan laut. Bahkan negara-negara seperti Iran mengambil langkah positif dalam hal ini dan cukup bangga akan fakta kesuksesan Konvensi Ramsar tentang Perlindungan Rawa, yang mengambil nama dari salah satu kota di Iran saat konvensi itu ditandatangani pada 1971. Meskipun Iran mengalami konflik beberapa tahun sesudahnya, dan mengabaikan soal lingkungan hidup, namun pada tahun 2004, pemerintah Iran membuat konferensi internasional tentang keamanan lingkungan hidup, yang juga mengundang Amerika. Konferensi ini telah membangun landasan yang kuat untuk menggunakan konservasi lingkungan hidup dalam menciptakan perdamaian. Mantan presiden Iran, Mohammad Khatami, menyatakan bahwa, “Polusi merupakan ancaman yang lebih besar daripada perang dan perjuangan untuk memelihara lingkungan hidup mungkin merupakan isu paling positif untuk mempersatukan negara-negara teluk.” Negara-negara teluk juga berusaha untuk mengurangi jejak hitam ekologi mereka yang amat besar. Abu Dhabi telah berkomitmen untuk membangun kota bebas karbon pertama di dunia dengan 40.000 jiwa penduduk pada tahun 2012. Dan Kota Masdar akan mengutamakan institusi pendidikan dan sejumlah perusahaan teknologi ramah lingkungan untuk mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan.  Jika energi para cendekiawan Muslim Pakistan dan madrasahnya, serta kaisar pembangunan kita bisa disalurkan ke arah kegiatan sosial dan lingkungan hidup yang positif semacam itu, mungkin kita bisa mulai menghargai persamaan kita sebagai manusia. Daripada berbicara terus tentang retorika yang memecah-belah suku dan sekte, atau bujukan politik, kita lebih memiliki kepentingan teologis dan teleologis untuk “menghijaukan masyarakat kita.” * Dr. Saleem H Ali (saleem@alum.mit.edu) adalah wakil dekan pendidikan tinggi di University of Vermont’s Rubenstein School of Environment dan editor Peace Parks: Conservation and Conflict Resolution (MIT Press).
 

Bab III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus dipenuhi saat manusia berinteraksi dengan lingkungan hidup. Prinsip- prinsip ini terbuka untuk di kembangkan lebih lanjut. Berikut adalah prinsip-prinsip yang dapat menjadi pegangan dan tuntunan bagi perilaku manusia dalam berhadapan dengan alam yakni sikap hormat terhadap alam, prinsip tanggung jawab, solidaritas kosmis dan prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam.
Krisis lingkungan sudah sampai pada tahap yang mengancam eksistensi bumi sebagai tempat tinggal manusia dan makhluk lain. Dalam hal ini,islam mempunyai konsep yang sangat jelas tentang pentingnya konservasi,penyelamatan, dan pelestarian lingkungan. Konsep tersebut merupakan teologi yang dapat dimaknai sebagai konsep berfikir dan bertindak. Selain itu, dikenal juga konsep khilafah dan Amanah,serta konsep keadilan,keseimbanan, keselarasan dan kemaslahatan maka terbangunlah suatu kerangka yang lengkap dan komprehensif tentang etika lingkungan hidup dalam perspektif islam.
Tanggapan manusia terhadap persoalan lingkungan hidup masih sangat minim. Semua bencana lingkungan, baik banjir, longsor maupun lainnya padahal itu juga merupakan ulah dari tangan jahil mereka sendiri.
Dari berbagai kegiatan dalam rangka penghijauan masyarakat yang di lakukan oleh beberapa negara diantaranya adalah islamic foundation for Ecology and Environmental Science, yang berbasis di Birmingham, inggris. Sedang mengembangkan sejumlah program untuk institusi-institusi  keagaamaan di negara-negara islam di seluruh dunia. Pada akhir 2006, US Agency For International Development meluncurkan program pendidikan lingkungan hidup di Tanzania yang menargetkan 12.650 murid sekolah dasar dan 12.650 murid madarasah, melatih 20 guru SD dan 220 guru madrasah tentang masalah-masalah ekosistem pantai dan laut.
B.    Saran- saran
Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak terlepas dari hambatan. Oleh karena itu, kami senantiasa mengharapkan saran dan kritik dari teman-teman yang sifatnya membangun untuk pembuatan makalah selanjutnya. Semoga hal-hal yang telah kami angkat sebagai pembahasan dapat menjadi pedoman atau acuan bagi teman-teman untuk bisa mengkaji lingkungan hidup dalam islam.

HADITS NASIKH DAN MANSUKH
Definisi
Naskh menurut bahasa mempunyai dua makna, yaitu : menghapus dan menukil. Sehingga seolah-olah orang yang menasakh itu telah menghapuskan yang mansukh, lalu memindahkan atau menukilkannya kepada hukum yang lain.
Sedangkan menurut istilah, naskh adalah “pengangkatan yang dilakukan oleh Penetap Syari’at terhadap suatu hukum yang datang terdahulu dengan hukum yang datang kemudian”.
Bagaimana Cara Mengetahui Nasikh dan Mansukh ?
Nasikh dan mansukh dapat diketahui dengan salah satu dari beberapa hal berikut :
•    Pernyataan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, seperti sabda beliau : “Aku dahulu pernah melarang kalian untuk berziarah kubur. Maka (sekarang) berziarahlah kalian, karena hal itu dapat mengingatkan akhirat” (HR. Muslim).
•    Perkataan shahabat.
•    Mengetahui sejarah, seperti hadits Syaddad bin ‘Aus : “Orang yang membekam dan yang dibekam batal puasanya” (HR. Abu Dawud); dinasakh oleh hadits Ibnu ‘Abbas : Nabi shalallahu alaihi wasalam : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berbekam sedangkan beliau sedang ihram dan berpuasa” (HR.Muslim).
Dalam salah satu jalur sanad Syaddad dijelaskan bahwa hadits itu diucapkan pada tahun 8 hijriyah ketika terjadi Fathu Makkah; sedangkan Ibnu ‘Abbas menemani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan ihram pada saat haji wadai tahun 10 hijriyah.
•    Ijma’ ulama’; seperti hadits yang berbunyi : “Barangsiapa yang meminum khamr maka cambuklah dia, dan jika dia kembali mengulangi yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Imam Nawawi berkata,”Ijma’ ulama menunjukkan adanya naskh terhadap hadits ini”. Dan ijma’ tidak bisa dinasakh dan tidak bisa menasakh, akan tetapi menunjukkan adanya nasikh.
Pentingnya Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadits
Mengetahui nasikh dan mansukh merupakan suatu keharusan bagi siapa saja yang ingin mengkaji hukum-hukum syari’ah, karena tidak mungkin dapat menyimpulkan suatu hukum tanpa mengetahui dalil-dalil nasikh dan mansukh. Oleh sebab itu, para ulama sangat memperhatikan ilmu tersebut dan menganggapnya sebagai satu ilmu yang sangat penting dalam bidang ilmu hadits.
Mereka mendefinisikannya sebagai berikut : “Ilmu nasikh dan mansukh adalah ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang bertentangan yang tidak mungkin dikompromikan, dimana salah satu hadits dihukumi sebagai nasikh dan yang lain sebagai mansukh. Hadits yang lebih dahulu disebut mansukh, dan hadits yang datang kemudian menjadi nasikh“.
Karya-Karya yang Disusun Tentang Nasikh dan Mansukh
Sebagian ulama menyusun buku tentang nasikh dan mansukh dalam hadits, diantaranya :
•    An-Nasikh wal-Mansukh, karya Qatadah bin Di’amah As-Sadusi (wafat 118 H), namun tidak sampai ke tangan kita.
•    Nasikhul-Hadits wa Mansukhihi, karya ahli hadits ‘Iraq, Abu Hafsh Umar Ahmad Al-Baghdadi, yang dikenal dengan Ibnu Syahin (wafat 385 H).
•    Nasikhul-Hadits wa Mansukhihi, karya Al-Hafidh Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Atsram (wafat 261 H), shahabat Imam Ahmad.
•    Al-I’tibar fin-Nasikh wal-Mansukh minal-Atsar, karya Imam Al-Hafidh An-Nassabah Abu Bakar Muhammad bin Musa Al-Hazimi Al-Hamadani (wafat 584 H).
•    An-Nasikh wal-Mansukh, karya Abul-Faraj Abdurrahman bin ‘Ali, atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnul-Jauzi.
Sumber :
Ditulis oleh Abu Al Jauzaa
~ oleh Abu Al Maira di/pada Juli 5, 2007.
Ditulis dalam Ilmu Hadits
Satu Tanggapan to “ILMU HADITS : HADITS NASIKH DAN MANSUKH”
1.    Mungkin masih berhubungan dengan tema Nasikh Mansukh. Bukan di Ilmu Hadits secara khusus, namun ditinjau dari dzat Nasikh-Mansukhnya itu sendiri :
TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 106 : NASIKH WA MANSUKH
Oleh : Al-Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah
مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنّ اللّهَ عَلَىَ كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
”Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Baqaraha : 106).
Mengenai firman Allah { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ} “Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”, Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan, dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما , ia mengatakan : Artinya : ما نبدل من آية = “yang Kami (Allah) gantikan”.
Masih mengenai ayat yang sama, dari Mujahid, Ibnu Juraij meriwayatkan { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ} ”Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”, maksudnya adalah ما نمحو من آية = “ayat mana saja yang Kami (Allah) hapuskan”.
Ibnu Abi Nujaih meriwayatkan dari Mujahid, bahwa ia menuturkan : { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ} ”Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”, artinya : نثبت خطها ونبدل حكمها = “Kami (Allah) biarkan tulisannya, tetapi Kami ubah hukumnya”. Hal itu diriwayatkan dari beberapa shahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه.
{ مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ} ”Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”, As-Suddi mengatakan : نسخها قبضها “Nasakh berarti menarik (menggenggamnya)”.
Sedangkan Ibnu Abi Hatim mengatakan : قبضها ورفعها “yaitu menggenggam dan mengangkatnya”; sebagaimana firman-Nya { «الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة»} ”Orang yang sudah tua, baik laki-laki maupun perempuan yang berzina, maka rajamlah keduanya”. Demikian juga firman-Nya : { «لو كان لابن آدم واديان من ذهب لابتغى لهما ثالثاً» } ”Seandainya Ibnu Adam mempunyai dua lembah emas, niscaya mereka akan mencari lembah yang ketiga”.
Masih berhubungan dengan firman-Nya : { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ} ”Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”, Ibnu Jarir mengatakan, artinya : Hukum suatu ayat yang Kami (Allah) pindahkan kepada lainnya dan Kami ganti dan ubah, yaitu mengubah yanghalal menjadi haram dan yang haram menjadi halal, yang boleh menjadi tidak boleh, dan yang tidak boleh menjadi boleh. Dan hal itu tidak terjadi kecuali dalam hal perintah, larangan, keharusan, muthlaq, dan ibahah (kebolehan). Sedangkan ayat-ayat yang berkenaan dengan kisah-kisah tidak mengalami nasikh maupun mansukh.
Kata an-naskhu ( النسخ) berasal dari naskhul-kitaab ( نسخ الكتاب ), yaitu menukil dari suatu naskah ke naskah lainnya ( وهو نقله من نسخة إلى أخرى غيرها ). Demikian halnya naskhul-hukmi ( نسخ الحكم ), berarti penukilan dan pemindahan redaksi ke redaksi yang lain, baik yang dinasakh itu hukum mapun tulisannya, karena keduanya tetap saja berkedudukan mansukh (dinasakh).
Firman-Nya { أَوْ نُنسِهَا} ”Atau Kami jadikan lupa”. Bisa dibaca dengan (salah satu dari) dua bacaan, yaitu nansa-ahaa ( ننسأها) dan nunsihaa ( ننسها ).
ننسأها berarti nu-akhkhiruhaa ( نؤخرها).
Mengenai firman Allah ta’ala : { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا}, Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما , ia mengemukakan, (artinya) : يقول ما نبدل من آية أو نتركها لا نبدلها Allah berfirman,”Ayat-ayat yang Kami rubah atau tinggalkan, tidak Kami ganti”.
Sedangkan Mujahid meriwayatkan dari beberapa shahabat Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, أو ننسأها berarti : نثبت خطها ونبدل حكمها “Kami tidak merubah tulisannya dan hanya merubah hukumnya saja”.
‘Athiyah Al-‘Aufi mengatakan nunsi-uhaa { أو ننسأها}, (berarti) : نؤخرها فلا ننسخها “Kami akhirkan ayat tersebut dan Kami tidak menghapusnya”.
Masih berkaitan dengan ayat { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا}, Adl-Dlahhak mengatakan : الناسخ والمنسوخ “yaitu nasikh dari yang mansukh”.
Mengenai bacaan au nunsihaa { أو ننسها}, ‘Abdur-razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah mengenai firman-Nya : { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا}, ia mengatakan : كان الله عز وجل: ينسي نبيه صلى الله عليه وسلم ما يشاء, وينسخ ما يشاء “Allah subhanaahu wata’ala menjadikan Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam lupa dan menasakh ayat sesuai dengan kehendak-Nya”.
Ubaid bin ‘Umair mengatakan au nunsihaa { أو ننسها}, berarti : نرفعها من عندكم “Kami mengangkatnya dari kalian”.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما , ia menceritakan :
قال عمر: أقرؤنا أبيّ وأقضانا علي, وإِنا لندع من قول أبي, وذلك أن أبيا يقول: لا أدع شيئاً سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم, وقد قال الله: {ما ننسخ من آية أو ننسها} وقوله: {نأت بخير منها أو مثلها}, أي في الحكم بالنسبة إلى مصلحة المكلفين
“Umar bin Khaththab radliyallaahu ‘anhu mengatakan,”Orang yang terbaik bacaannya di antara kami adalah Ubay dan yang paling ahli dalam hukum adalah ‘Ali, dan kami akan meninggalkan kata-kata ‘Ubay dimana ia mengatakan : ‘Aku tidakakan meninggalkan sesuatu apapun yang aku dengan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam’; padahal Allah ta’ala telah berfirman : مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا ”Ayat mana saja yang Kami nasakh atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya” dan firman-Nya : { نَأْتِ بِخَيْرٍ مّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا } ”Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya”. Yaitu hal hukum yang berkaitan dengan kepentingan para mukallaf”.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas,mengenai firman-Nya : { نَأْتِ بِخَيْرٍ مّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا } ”Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya”, ia mengatakan : “Yaitu memberi manfaat yang lebih baik bagi kalian dan lebih ringan” ( خير لكم في المنفعة وأرفق بكم.).
Masih mengenai firman-Nya { نَأْتِ بِخَيْرٍ مّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا } ”Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya”; Qatadah mengatakan : “Yaitu ayat yang di dalamnya mengandung pemberian keringanan, rukhshah, perintah, dan larangan”.
Dan firman Allah ta’ala :
ألم تعلم أن الله على كل شيء قدير * ألم تعلم أن الله له ملك السموات والأرض وما لكم من دون الله من ولي ولا نصير
”Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? Tidakkah engkau mengetahui bahwa kerajaan dan bumi adalah milik kepunyaan Allah? Dan tidak ada bagi kalian selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong”
Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullah mengatakan,”Penafsiran ayat tersebut adalah sebagai berikut : ‘Hai Muhammad, tidakkah engkau mengetahui bahwa hanya Aku (Allah) pemilik kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi. Di dalamnya Aku putuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Ku, dan di sana Aku mengeluarkan perintah dan larangan, dan (juga) menasakh, mengganti, serta merubah hukum-hukum yang Aku berlakukan di tengah-tengah hamba-Ku sesuai kehendak-Ku, jika Aku mengehendaki”.
Lebih lanjut Abu Ja’far mengatakan,”Ayat tersebut meskipun diarahkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk memberitahu keagungan Allah ta’ala, namun sekaligus hal itu dimaksudkan untuk mendustakan orang-orang Yahudi yang mengingkari nasakh (penghapusan) hukum-hukum Taurat dan menolak kenabian ‘Isa ‘alaihis-salam dan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Karena keduanya datang dengan membawa beberapa perubahan dari sisi Allah ‘azza wa jall untuk merubah hukum-hukum Taurat. Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi ini hanyalah milik-Nya, semua makhluk ini berada di bawah kekuasaan-Nya. Mereka harus tunduk dan patuh menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dia mempunyai hak memerintah dan melarang mereka, menasakh, menetapkan, dan membuat segala sesuatu menurut kehendak-Nya.
Berkenaan dengan hal tersebut, Penulis (Ibnu Katsir) katakan,”Yang membawa orang Yahudi membahas masalah nasakh ini adalah semata-mata karena kekufuran dan keingkarannya terhadap adanya nasakh tersebut. Menurut akal sehat, tidak ada suatu hal pun yang melarang adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah ta’ala, karena Dia dapat memutuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana Dia juga dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya. Yang demikian itu juga telah terjadi di dalam kitab-kitab dan syari’at-syari’at-Nya yang terdahulu. Misalnya, dahulu Allah ta’ala membolehkan Nabi Adam mengawinkan putrinya dengan putranya sendiri. Tetapi setelah itu Dia mengharamkan hal itu. Dia juga membolehkan Nabi Nuh setelah keluar dari kapal untuk memakan semua jenis hewan, tetapi setelah itu Dia menghapus penghalalan sebagiannya. Selain itu, dulu menikahi dua saudara puteri itu diperbolehkan bagi Israil (Nabi Ya’qub) dan anak-anaknya, tetapi halitu diharamkan di dalam syari’at Taurat dan kitab-kitab setelahnya. Dia juga pernah menyuruh Nabi Ibrahim ‘alaihis-salam menyembelih puteranya, tetapi kemudian Dia menasakhnya sebelum perintah itu dilaksanakan. Allah ta’ala juga memerintahkan mayoritas Bani Israil untuk membunuh orang-orang diantara mereka yang menyembah anak sapi, lalu Dia menarik kembali perintah pembunuhan tersebut agar tidak memusnahkan mereka.
Di samping itu, masih banyak lagi hal-hal yang berkenaan dengan masalah itu, orang-orang Yahudi sendiri mengakui dan membenarkannya. Dan jawaban-jawaban formal yang diberikan berkenaan dengan dalil-dalil ini, tidak dapat memalingkan sasaran maknanya, karena demikian itulah yang dimaksudkan. Dan sebagaimana yang masyhur tertulis di dalam kitab-kitab mereka mengenai kedatangan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan perintah untuk mengikutinya. Hal itu memberikan pengertian yang mengharuskan untuk mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan bahwa suatu amalan tidak akan diterima kecuali yang didahulukan berdasarkan syari’atnya, baik dikatakan syari’atnya terdahulu itu terbatas sampai pengutusan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka yang demikian itu tidak disebut sebagai nasakh. Hal itu didasarkan oleh firman-Nya { ثم أتموا الصيام إلى الليل} ”Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam”. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa syari’at itu bersifat mutlaq, sedangkan syari’at Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam menasakhnya. Bagaimanapun adanya, mengikutinya (Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam) merupakan suatu keharusan, karena beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam datang dengan membawa sebuah kitab yang merupakan kitab terakhir dari Allah ta’ala.
Dalam hal ini, Allah ta’ala telah menjelaskan dibolehkannya nasakh sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi – la’natullaahi ‘alaihim – dimana Dia berfirman { ألم تعلم أن الله على كل شيء قدير * ألم تعلم أن الله له ملك السموات والأرض } ”Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? Tidakkah engkau mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?”
Sebagaimana Dia mempunyai kekuasaan tanpa ada yang menandinginya, demikian pula halnya Dia yang berhak memutuskan hukum menurut kehendak-Nya. { ألا له الخلق والأمر} ”Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah” (QS. Al-A’raf : 54). Dan di dalam surat Aali Imran yang mana konteks pembicaraan pada bab awal surat tersebut ditujukan kepada Ahlul-Kitab juga terdapat nasakh : { كل الطعام كان حلاً لبني إسرائيل إلا ما حرم إسرائيل على نفسه } ”Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Nabi Ya’qub) untuk dirinya sendiri”. Sebagaimana penafsiran ayat ini akan kami sampaikan pada pembahasan selanjutnya.
Kaum muslimin secara keseluruhan sepakat membolehkan adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah ta’ala, karena di dalamnya terdapat hikmah yang sangat besar. Dan mereka semua mengakui terjadinya nasakh tersebut.
Seorang mufassir, Abu Muslim Al-Asbahani mengatakan : “Tidak ada nasakh dalam Al-Qur’an”. Pendapat Abu Muslim itu sangat lemah dan patut dotolak. Dan sangat mengada-ada dalam memberikan jawaban berkenaan dengan terjadinya nasakh. Misalnya (pendapat) mengenai masalah ‘iddah seorang wanita yang berjumlah empat bulan sepuluh hari setelah satu tahun. Dia tidak dapat memberikan jawaban yang diterima. Demikian halnya masalah pemmindahan Kiblat dari Baitul-Maqdis ke Ka’bah, juga tidak memberikan jawaban sama sekali. Juga penghapusan kewajiban bersabar menghadapi kaum kafir satulawan sepuluh menjadi satu lawan dua. Dan juga penghapusan (nasakh) kewajiban membayar sedekah sebelum mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan lain-lain.
والله أعلم
 Abu Al-Jauzaa’ dibahas juga di dalam Mei 13, 2008 pada 12:46 pm | Balas

Dinamika Pasar
(Faktor Pendukung Dinamika Pasar)
Hadis Pertama
حَدَّ ثَنا أَبُو بُكْرَبْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ وَاللفَظُ لاْبْنِ أَبِي شَيْبَةُ قَالَ أِسْحَقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ اْلآخَرَانِ حَدَّثَنَا وَكَيْعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ خَالِدٍ اْلحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ عَنْ أَبِي اْلأَشْعَثِ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ لصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلُى الله عليه وسلم الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ والْبُرُّ بِالْبُرِّوَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ وَالتَّمْرُبِالتَّمرِوَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اجْتَلَفَتْ هَذِهِ اْلأَصْنَافُ فَبِيعُواكَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيْدٍ. رواه مسلم
Artinya:  
Telah diceritakan kepada kami dari Abu Bakar Bin Abi Syaebah, Amrun An-Naqid, ishak Bin Ibrahim dan lafadznya oleh Ibnu Abi syaebah, Ishak berkata telah di kabarkan kepada kami, yang lainya berkata telah diceritakan kepada kami dari sufyan dari Khalid al-khadsa dari Abi Qilabah dari Abi asy’ab dari Ubadah Bin As-Shamit beliau berkata Rasulullah SAW bersabda: “Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim)
Hadis kedua    
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ هُوَ ابْنُ سَلاَّمٍ عَنْ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ عُقْبَةَ بْنَ عَبْدِالْغَافِرِ أَنَّهُ سَمِعَأَبَا سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيَّ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ بَلاَلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلُى الله عليه وسلم بِتَمْرٍ بَرْنِيٍ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلُى الله عليه وسلم مِنْ أَيْنَ هَذَا قَالَ بِلاَلٌ كَانَ عِنْدَنَا تَمْرٌ رَدِيٌّ فَبِعْتُ مِنْهُ صَاعَيْنِ بِصَاعٍ لِنُطْعِمَ النَّبِيَّ صلُى الله عليه وسلم فَقَالَ النَّبِيُّ صلُى الله عليه وسلم عِنْدَ ذَلكَ أَوَّه أَوَّه عَيْنُ الرِّبَا تَقْعَلْ وَلَكِنْ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَشْتَرِيَ فَبِعِ التَّمْرَ بِبَتْعِ آخْرَ ثُمَّ اشْتَرِه. رواه لبحاري
Artinya:
Telah diceritakan kepada kami Ishak, diriwayatkan kepada kami Yahya Bin Shaleh, meriwayatkan kepada kami Muawiyah (Ibn Salam) dan yahya berkata saya mendengar Uqbah Bin Abd.Gafir diriwayatkan dari  Abd said Al Khudri: Suatu ketika Bilal membawa kurma barniy kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau bertanya kepadanya,”Darimana  kamu memperoleh ini?” Bilal menjawab, ”Aku mempunyai sebuah kurma dengan kualitas yang rendah dan menukar 2 sha’ kurma itu dengan 1 sha’ kurma barniy dengan maksud memberikan kepada Nabi Saw”. Seketika itu juga Nabi Muhammad SAW bersabda, “hati-hati! Hati-hati! Ini riba! Ini riba! Jangan berbuat seperti itu. Apabila kamu ingin membeli kurma yang bagus kualitasnya, jualah kurma yang kualitasnya rendah itu kemudian gunakan uangnya untuk membeli kurma yang lebih bagus”.(HR.Bukhari)
Kandungan Hadis
Hadis pertama:
    Menjelaskan bahwa barter itu tidak boleh dilakukan karena tidak terdapat manfaat didalamnya. Dimana  barang yang dibarter itu harus memiliki kualitas dan kuantitas yang sama/sebanding. Jika barang yang dibarter itu tidak memiliki kualitas dan kuantitas yang sama/sebanding maka hal itu tidak boleh dilakukan karena akan terjadi riba didalamnya.
    Dalam hadis ini juga dijelaskan bahwa barter boleh dilakukan, apabila barang yang berbeda dan kamu jual barang itu dengan tunai kemudian membeli barang yang kamu butuhkan.
Para ulama telah menyepakati bahwa keenam komoditi (emas, perak, gandum, sya’ir, kurma dan garam) yang disebutkan dalam hadits di atas termasuk komoditi ribawi. Sehingga enam komoditi tersebut boleh diperjualbelikan dengan cara barter asalkan memenuhi syarat. Bila barter dilakukan antara komoditi yang sama -misalnya kurma dengan kurma, emas dengan emas, gandum dengan gandum-, maka akad tersebut harus memenuhi dua persyaratan.
Persyaratan pertama, transaksi harus dilakukan secara kontan (tunai). Sehingga penyerahan barang yang dibarterkan harus dilakukan pada saat terjadi akad transaksi dan tidak boleh ditunda seusai akad atau setelah kedua belah pihak yang mengadakan akad barter berpisah, walaupun hanya sejenak. Misalnya, kurma kualitas bagus sebanyak 2 kg ingin dibarter dengan kurma lama sebanyak 2 kg pula, maka syarat ini harus terpenuhi. Kurma lama harus ditukar dan tanpa boleh ada satu gram yang tertunda (misal satu jam atau satu hari) ketika akad barter. Pembahasan ini akan masuk riba jenis kedua yaitu riba nasi’ah (riba karena adanya penundaan).
Persyaratan kedua, barang yang menjadi objek barter harus sama jumlah dan takarannya, walau terjadi perbedaan mutu antara kedua barang. Misalnya, Ahmad ingin menukar emas 21 karat sebanyak 5 gram dengan emas 24 karat. Maka ketika terjadi akad barter, tidak boleh emas 24 karat dilebihkan misalnya jadi 7 gram. Jika dilebihkan, maka terjadilah riba fadhl.
Jika dua syarat di atas tidak terpenuhi, maka jual beli di atas tidaklah sah dan jika barangnya dimakan, berarti telah memakan barang yang haram.
Hadis kedua:
    Menjelaskan tentang transaksi jual beli barter dengan kualitas dan kuantitas barang yang berbeda termasuk riba (larangan barter kurma kualitas rendah dengan kualitas tinggi). Dimana kita dapat melihat transaksi yang terdapat dalam hadis tersebut, barter kurma dengan kualitas tinggi dengan kurma kualitas rendah dengan perbandingan 2:1 dan tambahanya itulah yang disebut riba dan riba itu dilarang sebagaimana yang terdapat dalam (QS.Al-Baqarah:275).
Barter yang terdapat dalam hadis tersebut termasuk bagian dari riba Fadhl karena terjadi pada jual beli barang sejenis/ Barter yang tidak mempunyai kesamaan kualitas dan kuantitas.

Dinamika Pasar
(Faktor Pendukung Dinamika Pasar)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
 Hadis Istishad Pada Semester V Jurusan Syariah
 Program Studi Ekonomi Syariah

Oleh:
FITRIANI
( 01.09.3037 )
Ek.Syar 2

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
WATAMPONE
2011

Analisis Pengaruh Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham Perusahaan Manufaktur (Studi Analisis CV. Firmansyah Meubel)

  1. A.    Latar Belakang

Dalam era globalisasi pada masa ini pengetahuan yang mendalam mengenai makroekonomi yaitu analisis mengenai kegiatan ekonomi dari sudut pandangan yang menyeluruh, sangat penting dilakukan.

          Setiap individu yang belajar ilmu ekonomi, yang kemudian mengharapkan dan diharapkan menjadi sarjana ekonomi, biasanya mempunyai satu bidang yang diminatinya. Saya sudah mulai meminati satu bidang studi dalam ilmu ekenomi sebelum memasuki Fakultas Ekonomi, yaitu: Ekonomi Pembangunan. [1]

          Apakah yang menarik dalam teori makcroekonomi? Seorang yang mulai belajar ilmu ekonomi akan merasa bingung kalau mempelajari makcroekonomi, dan mungkin akan berkesimpulan bahwa macroekonomi lebih sukar dipahami ketimbang teori mikroekonomi. Masalah lain yang terus menerus mendapat perhatian pemerintah adalah masalah inflasi. Tujuan jangka panjang pemerintah adalah menjaga agar tingkat inflasi yang berlaku berada pada tingkat yang sangat rendah. Tingkat inflasi non persen bukanlah tujuan utama kebijakan pemerintah karena ia sukar dicapai. Yang paling penting untuk diusahakan adalah menjaga agar tingkat inflasi tetap rendah.

          Adakalanya tingkat inflasi meningkat secara tiba-tiba atau wujud sebagai akibat suatu peristiwa tertentu yang berlaku di luar ekspekstasi pemerintah misalnya efek dari pengangguran nilai uang (defresiasi nilai uang) yang sangat besar atau ketidakstabilan politik. Inflasi ini biasanya terjadi pada masa perekonomian berkembang dengan pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi mengeluarkan barang dan jasa. Pengeluaran yang berlebihan ini menimbulkan inflasi.[2]

          Inflasi merupakan masalah utama di banyak negara berkembang dan menjadi pertanda bagi negara-negara sosialis untuk melakukan perubahan yang mengarah ke pasar, seperti misalnya Polandia dan Yogosali. Banyak pengamat yang menghawatirkan bahwa Uni Soviet akan berada dalam situasi inflasi yang hebat di tahun 1991.[3]

          Inilah saatnya bagi kita untuk menganalisis berbagai pertanyaan mengenai perilaku harga keseluruhan inflasi. Mengapa negara-negara begitu memperhatikan inflasi besar? Angkah apa yang harus diambil untuk menjaga agar inflasi berada dalam irama yang tetap dan tidak bergerak secara liar.

          Jika kita perhatikan data kurs dan tingkat harga dari berbagai negara, kita dapat segera meliha pentingnya inflasi untuk menjelaskan perubahan-perubahan kurs normal. Contoh yang paling dramatis berasal dari periode-periode inflasi yang sangat tinggi. Hubungan yang sama juga berlaku untuk negara-negara dengan inflasi yang lebih moderat.

          Pada saat surat-surat kabar memberitakan bahwa  “Inflasi Meningkat” atau “Bank Sentral bereksi terhadap peningkatan kecenderungan inflasi”, mereka sebenarnya memberikan pergerakan indeks harga.[4] Akibat dari  inflasi sangat juga berpengaruh terhadap nilai saham pada perusahaan karena penilaian surat berharga saham dapat dirinci ke dalam beberapa macam jenis nilai saham, sebagai par berikut.[5]

  1. Nilai nominal (par value):nilai kewajiban yang ditetapkan untuk tiap lembar saham. Kepentingannya berkaitan dengan hukum.
  2. Agio saham (additional paid in capital atau excess of par value): selisih yang dibayar dengan nilai nominal.
  3. Nilai Modal disetor (paid in capital): total yang dibayar oleh pemegang saham kepada emiten untuk ditukarkan dengan saham biasa atau preferen.
  4. Laba ditahan (retained earnings): sebagai laba yang tidak dibagikan kepada pemegang saham untuk ditanamkan kembali keperusahaan.
    1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang    di atas, maka permasalahan pokok yang akan dikaji adalah bagai mana pengaruh inflasi terhadap indeks harga perusahaan manufaktur dengan sub masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana  fungsi inflasi terhadap perusahaan manufaktur  CV. Firmansyah Meubel?
  2. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap indeks harga saham perusahaan manufaktur CV. Firmansyah Meubel?
  3. C.  Pengertian Judul

    Untuk menghindari terjadinya kesalahan persepsi dalam memaknai judul skripsi ini, maka perlu dikemukakan pengertian terhadap beberapa istilah kunci yang terdapat dalam judul tersebut, yaitu:

  1. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan), untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penganalaahan bagian itu sendiri serta hubunagn antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.[6]
  2. Inflasi adalah kemerosotan nilai mata uang (kertas) krn terlalu banyak beredar dan menyebabkan melambungnya harga.[7]
  3. Indeks Harga adalah bilangan indeks yang menggabungkan bebrapa macam deret harga menjadi suatu deret yang mencerminkan taraf harga rata-rata.[8]
  4. Saham adalah surat bukti pemilikan bagian modal perseroan terbatas yang memberi hak atas deviden dan lain-lain menurut besar kecilnya modal yang disetor atau hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagi dalam pemilika pengawsan.[9]
  5. Perusahaan Manufaktur adalah perusahaan yang membuat atau menghasilkan dengan tangan atau mesin, proses mengubah bahan mentah menjadi barang untuk dapat digunakan, dipakai atau dikomsumsi oleh manusia.[10]

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka secara operasional pengertian judul skripsi Analisis Pengaruh Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham Perusahaan Manufaktur adalah proses pnelitian terhadap nilai mata uang  yang mencerminkan taraf harga rata-rata untuk perusahaan yang mengelolah bahan mentah menjadi barang jadi.

  1. D.  Tinjauan Pustaka

Melihat dari refrensi yang ada terkait dengan pembahasan skripsi Analisis Pengaruh Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham Perusahaan Manufaktur (Studi Analisis CV. Firmansyah Meubel). Diantara literatur yang membahasnya adalah sebagai berikut:

Dalam buku Makroekonomi Modern karangan Sadono Sukirni mengatakan bahwa uang yang berlebih-lebihanakan menimbulkan kenaikan harga-harga yang menyeluruh, yang lebih dikenal dengan istilah inflasi. Semenjak itulah peradaban manusia mulai menggunakan uang, terutama setelah penggunaan uang kertas dilakukan, telah disadari bahwa uang dapat menimbulkan banyak persoalan dalam kegiatan perekonomian. Semenjak beberapa abad yang lalu ahli-ahli ekonomi telah mencoba menganalisis pertalian diantara penawaran uang dengan inflasi, dan analisis-analisis ini pada akhirnya mewuhudkan salah satu teori moneter penting dala analisis ekonomi, yaitu teorin kunatitas. Teori ini pada dasarya berpendapat bahwa terdapat pertalian yang rapat di antara perkembangan penawran uang dan tingkat inflasi yang berlaku. [11]

Dalam perekonomian modern sekarang ini masalah dan penyebab inflasi adalah sangat kompleks. Ia bukan saja disebabkan oleh penawaran uang yang berlebihan tetapi oleh banyak faktor lain seperti kenaikan gaji, ketidak satabilan politik, pengaruh inflasi di luar negeri dan kemerosotan nilai mata uang.

Menurut buku Sandono Sukirno dalam Makroekonomi  Inflasi juga berlaku dalam masa pereonomian berkembang dengat pesat ketika tingkat pengangguran adalah sangat rendah. Apabila perusahaan-perusahaan masih mengadakan permintaan yang bertambah, mereka akan berusaha menaikkan produksi dengan cara memberikan gaji dan upah yang lebih tinggi kepada pekerjanya dan mencari pekerja baru dengan tawaran pembayaran yang lebih tinggi ini. Langka ini mengakibatkan biaya produksi meningkat, yang akhirnya akan menyebabkan kenaikan harga berbagai barang.

Menurut buku Jeff Madura dalam Manajemen keuanagn Internasional penyebab inflasi didorong oleh kesadaran tentang akibat-akibat buruk yang ditimbulakan oleh inflasi, semenjak lama ahli-ahli ekonomi telh mencoba untuk memahami dan menerangkan sebab-sebab dari inflasi.[12]

Berdasarkan kepada sumber penyebabnya inflasi dibedakan kepada tiga bagian: Inflasi Tarikan Pemerintah (Demeand –Pull Inflation), Inflasi Desakan Biaya (Cost-Push Inflation) dan Inflasi diImport (Imported Inflation).

  1. Inflasi Tarikan Pemerintah

             Ini merupakan bentuk Inflasi yang diakibatkan oleh perkembanagn yang tidak seimbang di antara permintaan penawaran barang dalam perekonomian. Setiap masyarakat tidak dapat secara mendadak menaikkan produksi berbagai macam barang pada ketika permintaannya meningkat. Dalam keadaaan seperti ini, aqpabila permintaan menungkat dengan pesat- misalnya sebagai akibat pertambahan penawaran uang yang berlebihan, inflasi kan berlaku.

Inflasi tarikan pemerintah kan berlakupda ketika perekonomian menghadapi masalah pengangguran yang tinggi maupun pada ketika kesempatan kerja penuh sudah tercapai.  Apabila suatu perekonomian telah mencapai tingkat kesempatan kerja penuh, inflasi tarikan pmerintah akan berlaku apabila permintaan agregat masih tetap bekembang dengan pesat.

  1. Inflasi Desakan Biaya

Inflasi seperti ini biasanya berlaku pada ketika kegiatan ekonomi telah mencapai kesempatan kerja penuh. Pada tingkat ini industri-industri telah beroperasi pada kapasitas yang maksimal dan pengangguran tenaga kerja sangat rendah. Biaya produksi juga meningkat sebagia akibat kenaikan harga input – seperti biaya pengangkutan kenaikan sewa bangunan dan kenaikan harga bahan mentah.

  1. Inflasi diimpor

Istilah ini mulai populer semenjak tahun 1970an pada ketika ekonomi dunia dilanda masalah inflasi. Sumber dari masalah tersebut adalah kenaikan minyak sebanyak tiga kali lipat pada tahun 1973 yang dilakukian oleh negara-negara produsen minyak. Maka secara mendadak biaya produksi industri meningkat, yang seterusnya menyebabkan masalah inflasi. Peristiwa tersebut bukan saja menimbulakan masalah inflasi yang serius, tetapi juga menyebabkan berbagai industri tidak dapat menjalankan kegiatan secara menguntungkan dan mengurangi atau menutup operasinya.

Menurut buku Paul A. Samuelson dalam makroekonomi mengatakan bahwa dampak distribusional utama dari inflasi berasal dari perbedaan bentuk aktiva dan kewajiban yang dimiliki oleh masyarakat. Pada saat masyarakat meminjang uang, peningkatan tajam pada harga-harga pada merupakan keuntungan tak terduga bagi mereka. Misalnya anda meminjam 100.100 dolar untuk membeli rumah, dan membayar hipotek tahunan anada adalah 10.100 dolar. Tiba-tiba, inflasi besar melipatgandakan seluruh upah dan harga. Pendapat dolar anda berlipat ganda sekalipun jumlah barang-barang yang dapat dibeli oleh pendapatan anda tersebut tidak berubah. Tetapi apa yang telah terjadi terhadap biaya riil hipotek anda? Pembayaran hipotek anda adalah tetap 10.100 dolar per tahun, tetapi untuk pembayarannya anda hanya membutuhkan kerja setengah dari sebelumnya. Inflasi besar telah meningkatkan kekayaan Anda sebesar 50.000 dolar, dengar menurunkan separuh nilai riil pinjaman hipotek Anda.

Apabila inflasi terjadi dalam jangka waktu yang panjang, masyarakat akan mengantisipasi dan pasar akan melakukan penyesuaian. Unsur inflasi akan secara bertahap serta bertahap disertakan dalam suku bunga pasar. Dampak utama dari inflasi terjadi melalui pengaruhnya terhadap niali riil kekayaan masyarakat. Secara umum, inflasi tidak terantisipasi akan mendistribusikan kembali kekayaannyadari debitur ke kreditur. Penurunan inflasi yang tidak terantisipasi mempunyai pengaruh sebaliknya.

Dengan demikian inflasi akan menurunkan pendapatan riil dari pekerja-pekerja yang berpendapat tetap yang kerap kali merupakan sebagian besar dari angkatan kerja dalam perekonmian. Ini merupakan salah satu alsan penting yang menyebabkan masalah inflasi perlu dihindari. Di sampin itu inflasi perlu pula dihindari oleh karena ia dapat mnimbulkan berbagai akibat buruk ke atas kegiatan dalam perekonomian yang pada akhirnya akan menimbulkan ketidak stabilan, pertumbuhan yang lambat dan pengangguran yang semakin meningkat.

Berbagai masalah inilah yang akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatlan pengangguran. Seterusnya inflasi perlu dihindari berdasarkan pertimbangan keadilan. Inflasi akan memperkaya pemilik modal dan pemilik harta tetap, karena nilai kekayaan mereka semakin meningkat. Sebaliknya, seperti telah dinyatakan di ayas, golongan masyarkat yang bergaji tetap mengalami kemerosotan dalam pendapatan riilnya. Maka jurang kekayaan masyarakat akan betambah lebar sebagai akibat inflasi.

  1. E.  Kerangka Teori

Secara sistematis untuk membahas suatu masalah perlu adanya kerangka dasar berfikir ilmiah sebagai landasan pembahasan dan pengkajian secara utuh dan objektif terhadap masalah itu. Untuk itu dalam tulisan ini akan ditemukan beberapa landasan berpikir ilmiah berupa kerangka teoritis tentang Analisis pengaruh inflasi terhadap indeks harga saham perusahaan manufaktur.

 

 

Analisis Pengaruh Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham perusahaan Manufaktur

Inflasi

Meningkat

Menurun

 

 

 

 

 

 

 

  1. F.   Tujuan Penelitian
    1. Untuk mendeskripsikan fungsi inflasi terhadap perusahaan manufaktur CV. Firmansyah Meubel.
    2. Untuk mengetahui pengaruh inflasi terhadap indeks harga saham pada perusahaan manufaktur CV. Firmansyah Meubel.

G. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini diharapkan mampu memberikan konstribusi yang besar kepada masyarakat pada khususnya kepada CV. Firmansyah Meubel, baik secara teoritis maupun secara  praktis.

  1. Kegunaan secara teoritis
    1. Hasilnya dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam perkembangan mata kuliah  Manajemen keuangan.
    2. Untuk dikaji dan dipelajari oleh mahasiswa yang mengambil program studi Ekonomi Syariah.
    3. Kegunaan secara praktis
      1. Memberikan masukan atau kontribusi kepada pemerintah dan masyarakat mengenai pengaruh inflasi terhadap indeks harga saham perusahaan manufaktur (studi analisis CV. Firmansyah Meubel).
      2. Sebagai bahan masukan kepada pegawai atau karyawan CV. Firmansyah Meubel  dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing.
      3. H.  Metode Penelitian

Penelitian adalah suatu metode ilmiah yang dilakukan melalui penyelidikan dengan seksama dan lengkap, terhadap semua bukti-bukti yang dapat diperoleh mengenai suatu permasalahan tertentu, sehingga dapat diperoleh pemecahan permasalahan. Sedangkan metode penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematik, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala tertentu, dengan jalan menganalisanya[13].

Pada prinsipnya dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut:

  1. 1.      Metode Pendekatan dan Sumber Data
    1. Metode Pendekatan

          Metode pendekatan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, karena dalam penelitian ini penulis mencoba menggambarkan analisis pengaruh inflasi terhadap indeks harga saham perusahaan manufaktur pada CV. Firmansyah Meubel.

  1. Sumber Data

            Sesuai dengan jenis data yang digunakan dalam maka yang menjadi sumber data adalah:

1)      Sumber data primer dalam penelitian ini adalah inflasi pada perusahaan manufaktur CV. Firmansyah Meubel.

2)      Sumber data sekunder adalah data yang mengandung sumber data primer yang dapat berupa buku-buku literatur, peraturan-peraturan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

  1. 2.      Lokasi Penelitian

Dalam menyusun skripsi penulis mengambil lokasi penelitian di CV. Firmansyah Meubel dengan pertimbangan bahwa:

  1. CV. FIRMANSYAH MEUBEL menerapkan pola dan fungsi manajemen keuangan.
  2. Mudah dijangkau, karena dekat.
  3. 3.      Instrumen Penelitian

            Instrumen adalah alat yang digunakan untuk memperoleh data yang sesuai dengan obyek pembahasan. Oleh karena itu, instrumen dalam penelitian meliputi seluruh sarana yang digunakan mengumpulkan data-data yang diperlukan. Di samping itu, instrumen penelitian juga meliputi peneliti dan informan atau sumber informasi.

            Menurut Moleong bahwa dalam penelitian kualitatif pencari tahu alamiah dalam pengumpulan data lebih banyak bergantung pada peneliti.[14] Mengingat peneliti ini merupakan peneliti kualitatif, maka menjadi instrumen utama adalah peneliti. Hal ini sejalan dengan kriteria penelitian kualitatif yang menganggap bahwa seorang peneliti sekaligus sbagai instrumen penelitian. Dengan demikian, pemecahan masalah dan intensitas penelitian sangat ditentukan oleh peneliti sebagai instrumen utama. Artinya bahwa kemampuan personal penelitian dalam mengumpulkan data dan menganalisis data, sangat menetukan hasil penelitian.

            Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder dengan menggunakan analisis deskriptif, yaitu penelitian yang beusaha menggambarkan objek penelitian apa adanya.

  1. 4.      Populasi dan Sampel Penelitian
    1. Populasi

Dalam suatu penelitian ilmiah, penentuan populasi merupakan unsur yang sangat penting. Untuk itu penulis akan mengemukakan beberapa pengertian populasi, sebagai berikut:

1)      Populasi adalah kelompok besar individu yang mempunyai karakteristik umum.[15]

2)      Populasi adalah data yang menjadi perhatian peneliti dalam suatu ruang lingkup dan waktu. Jadi populasi berhubungan dengan data, bukan manusianya.[16]

3)      Populasi keseluruhan objek penelitian.[17]

Menurut Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, populasi diartikan sebagai suatu keseluruhan subjek penelitian. Apabila seorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka pnelitiannya merupakan penelitian populasi studi dan penelitian juga disebut studi atau sensus.[18]

Dari pengertian di atas, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa, populasi tidak lain adalah keseluruhan individu yang menjadi objek penelitian. Populasi tidak terbatas bahkan ada yang tidak dapat dihitung jumlah dan besarnya sehingga tidak mungkin diteliti. Kalupun akan diteliti, memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang sangat mahal dan tidak praktis. Oleh karena itu, perlu dipilih sebagian saja asal memiliki sifat-sifat yang sama dengan populasinya.[19] Penelitian populasi untk melihat semua lika-liku yang ada dalam populasi, kemudian objek dalam populasi yang diteliti hasilnya dianalisis, disimpulkan dan kesimpulan itu berlaku seluruh populasi yang diteliti hasilnya dianalisis, disimpulkan dan kesimpulan itu berlaku seluruh populasi.

Adapun populasi dalam penelitian ini adalah Direktur dan Krayawan Perusahaan Manufaktur kota Watampone.

  1. Sampel

Sampel ditentukan dengan metode random sampling yaitu suatu cara pemilihan sejumlah elemen dari populasi untuk menjadi anggota sampel, pemilihan dilakukan sedemkian rupa sehingga elemen mendapat kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi angg0ota sampel.[20]

Adapun sampel dalam penelitian ini adalah dipilih secara proporsional. Metode ini digunakan karena banyaknya data populasi.

  1. Dokementasi

Yakni teknik ini dilakukan dengan langsung ke lokasi penelitian untuk melihat dokumen yang tertulis mengenai data yang berkaitan dengan masalah inflasi pada perusahaan manufaktur.

  1. d.      Teknik Pengumpulan Data

                        Dalam penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

  1. Studi Kepustakaan (Librari Research)

Library research yaitu metode yang digunakan dengan jalan menelaah beberapa buku literatur yang berkaitan dengan yang diteliti untuk dijadikan konsep atau teori dalam pembahasan skripsi ini.

Dengan mengkomparasikan beberapa literatur kepustakaan melalui resensi buku yang membahas tentang inflasi (kenaikan harga), indeks harga dan saham (surat bukti kepemilikan modal).

  1. Wawancara ( Interview)

      Menurut Fred. N. Kerlinger, wawancara adalah situasi peran antara pribadi bertatap muka ketika seseorang yakni pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada seseorang responden.[21]

Pada kegiatan ini peneliti melakukan wawancara (interview) kepada Pemilik Perusahaan Manufaktur di kota Watampone. Adapun jenis wawancaranya yang digunakan dalam penulisan ini adalah:

1)        Wawancara (interview) berencana,

Yakni wawancara (interview) yang disertai dengan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya.

2)         Wawancara (interview) bebas,

Yakni wawancara (interview) yang tidak disertai daftar pertanyaan.

  1. e.       Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif, yaitu menggambarkan:

  1. Fungsi inflasi terhadap perusahaan manufaktur
  2. Pengaruh inflasi terhadap indeks harga saham perusaan manufaktur

                        Berdasarkan hal tersebut, maka jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan menggadakan pendekatan kualitatif, yang artinya penelitian yang bermaksud mendeskripsikan tentang situasi dan kejadian-kejadian apa adanya dalam arti mengakumulasi tentang situasi dan kejadian-kejadian apa adanya dalam arti mengakumulasi data dasar secara deskriptif dan tidak perlu mencari korelasoonal, membuat ramalan, atau mnedapatkan makna dan implikasi.

  1. I.     Garis-garis Besar Isi Skripsi

Skripsi  ini akan dibagi dalam beberapa bab dan sub bab antara lain :

              Bab satu adalah Pendahuluan yang berisikan Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Pengertian Judul, Kerangka teori, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Metode penelitian  serta,  garis-garis besar isi skripsi.

               Bab dua adalah Tinjauan Pustaka berisikan, pada bab ini penulis mengkaji dua aspek yaitu Fungsi inflasi dan pengaruh inflasi terhadap indeks harga saham.

              Bab tiga penulis membahas metodologi penelitian menentukan metode pendekatan dan sumber data, lokasi penelitian, instrumen penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data.

              Bab empat adalah Pembahasan Hasil Penelitian yang berisikan,  fungsi inflasi terhadap perusahaan manufaktur dan pengaruh inflasi terhadap harga saham perusahaan manufaktur.

              Bab lima  Penutup yang berisikan Kesimpulan dan Saran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Pusat Pembinaan dan Pemahaman Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesi, cet. II, Jakarta: Balai Pustaka, 1989

Sadono Sukirno, Makroekonomi Modren, Ed. I, Cet. II, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000

Julius C. Rumpak, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. I, Jakarta: Balai Pustaka, 2002

Khuzaifah, Dimyanti dan Kilk Wardianto. Metode Penelitian Hukum Surakarta: universitas Muhammadiyah Surakarta 2004

Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Cet.II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000

Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif dalam Pendidikan, Cet. I; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1996

Lexy J. Moleoung, Metologi penelitian Kuantitatif, Cet. XV; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2001

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Cet. XII; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002

Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, Cet. V; Bandung: Sianar Baru Algesindo, 1997

Muhammad Teguh, Metodologi Penelitian, Ed. I, Cet.I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999

Amiruddin dan Zainal, Pengantar Metode penelitian Hukum, Ed. I, Cet. I; Jakarta: PT> RajaGrafindo Persada, 2004

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta

Sandono Sukirno, Makroekonomi Teori Pengantar, Ed. III, Cet. IX; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010

Jeff Madura, Manajemen Keuangan Internasional, Ed. IV, Cet. I; Jakarta: Erlangga, 2000

 Harmono, S.E., Msi., Manajemen Kuangan, Cet. I, Jakarta: PT Bumi Prakarsa, 2009

Paul A. Samuelson, Makroekonomi,Ed. XIV, Jakarta: Erlangga, 1992

N. Gregory Mankiw, Makroekonomi, Ed. VI; Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OUT LNE

BAB I       :  PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang
  2. B.     Rumusan Masalah
  3. C.    Pengertian Judul
  4. D.    Kerangka Teori
  5. E.     Tujuan Penulisan
  6. F.     Kegunaan Penulisan
  7. G.    Garis-garis Besar Isi Skripsi

BAB II      :  KAJIAN PUSTAKA

  1. A.    Pengertian Inflasi
  2. B.     Penyebab Inflasi
  3. C.    Dampak  dari Inflasi

BAB III    :  METODOLOGI PENELITIAN

  1. A.    Lokasi Penelitian
  2. B.     Metode Pendekatan dan Sumber Data
  3. C.    Instrumen Penelitian
  4. D.    Populasi dan Sampel Penelitian
  5. E.     Teknik Pengumpulan Data
  6. F.     Teknik Analisis Data

BAB IV    :  PEMBAHASAN

  1. A.    Fungsi Inflasi Terhadap Perusahaan Manufaktur CV. FIRMANSYAH MEUBEL
  2. B.     Pengaruh Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham Perusahaan CV. FIRMANSYAH MEUBEL

BAB V      :  PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan
  2. B.     Saran

[1] Sandono Sukirno, Makroekonomi Teori Pengantar, (Ed. III, Cet. IX; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010), h. ix

[2] Ibid., h 33

[3] Paul A. Samuelson, Makroekonomi,(Ed. XIV, Jakarta: Erlangga, 1992), h 306

[4] N. Gregory Mankiw, Makroekonomi,(Ed. VI; Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 2007), h.86

[5] Dr. Harmono, S.E., Msi., Manajemen Kuangan, (Cet. I, Jakarta: PT Bumi Prakarsa, 2009), h. 56

[6] Pusat Pembinaan dan Pemahaman Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (cet. II, Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 32

[7] Sadono Sukirno, Makroekonomi Modren, (Ed. I, Cet. II, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000), h. 10

[8] Ibid,h. 23

[9] Julius C. Rumpak, Kamus Besar Bahasa Indonesia,(Cet. I, Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 977

[10] Sadono Sukirno, op.cit., h. 424

[11] Ibid., h. 10

[12] Jeff Madura, Manajemen Keuangan Internasional, (Ed. IV, Cet. I; Jakarta: Erlangga, 2000), h. 89

[13]  Khuzaifah, Dimyanti dan Kilk Wardianto. Metode Penelitian Hukum (Surakarta: universitas Muhammadiyah Surakarta 2004), h. 1

[14] Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Cet.II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 19

[15] Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif dalam Pendidikan, (Cet. I; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1996), h. 133

[16] Lexy J. Moleoung, Metologi penelitian Kuantitatif, (Cet. XV; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2001), h. 118

[17] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, (Cet. XII; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), h. 108

[18] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, ( Jakarta: Rineka Cipta), h. 115

[19] Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, (Cet. V; Bandung: Sianar Baru Algesindo, 1997), h 71

[20] Muhammad Teguh, Metodologi Penelitian, (Ed. I, Cet.I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), h. 112

[21] Amiruddin dan Zainal, Pengantar Metode penelitian Hukum,(Ed. I, Cet. I; Jakarta: PT> RajaGrafindo Persada, 2004), h. 30