HADITS NASIKH DAN MANSUKH
Definisi
Naskh menurut bahasa mempunyai dua makna, yaitu : menghapus dan menukil. Sehingga seolah-olah orang yang menasakh itu telah menghapuskan yang mansukh, lalu memindahkan atau menukilkannya kepada hukum yang lain.
Sedangkan menurut istilah, naskh adalah “pengangkatan yang dilakukan oleh Penetap Syari’at terhadap suatu hukum yang datang terdahulu dengan hukum yang datang kemudian”.
Bagaimana Cara Mengetahui Nasikh dan Mansukh ?
Nasikh dan mansukh dapat diketahui dengan salah satu dari beberapa hal berikut :
•    Pernyataan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, seperti sabda beliau : “Aku dahulu pernah melarang kalian untuk berziarah kubur. Maka (sekarang) berziarahlah kalian, karena hal itu dapat mengingatkan akhirat” (HR. Muslim).
•    Perkataan shahabat.
•    Mengetahui sejarah, seperti hadits Syaddad bin ‘Aus : “Orang yang membekam dan yang dibekam batal puasanya” (HR. Abu Dawud); dinasakh oleh hadits Ibnu ‘Abbas : Nabi shalallahu alaihi wasalam : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berbekam sedangkan beliau sedang ihram dan berpuasa” (HR.Muslim).
Dalam salah satu jalur sanad Syaddad dijelaskan bahwa hadits itu diucapkan pada tahun 8 hijriyah ketika terjadi Fathu Makkah; sedangkan Ibnu ‘Abbas menemani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan ihram pada saat haji wadai tahun 10 hijriyah.
•    Ijma’ ulama’; seperti hadits yang berbunyi : “Barangsiapa yang meminum khamr maka cambuklah dia, dan jika dia kembali mengulangi yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Imam Nawawi berkata,”Ijma’ ulama menunjukkan adanya naskh terhadap hadits ini”. Dan ijma’ tidak bisa dinasakh dan tidak bisa menasakh, akan tetapi menunjukkan adanya nasikh.
Pentingnya Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadits
Mengetahui nasikh dan mansukh merupakan suatu keharusan bagi siapa saja yang ingin mengkaji hukum-hukum syari’ah, karena tidak mungkin dapat menyimpulkan suatu hukum tanpa mengetahui dalil-dalil nasikh dan mansukh. Oleh sebab itu, para ulama sangat memperhatikan ilmu tersebut dan menganggapnya sebagai satu ilmu yang sangat penting dalam bidang ilmu hadits.
Mereka mendefinisikannya sebagai berikut : “Ilmu nasikh dan mansukh adalah ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang bertentangan yang tidak mungkin dikompromikan, dimana salah satu hadits dihukumi sebagai nasikh dan yang lain sebagai mansukh. Hadits yang lebih dahulu disebut mansukh, dan hadits yang datang kemudian menjadi nasikh“.
Karya-Karya yang Disusun Tentang Nasikh dan Mansukh
Sebagian ulama menyusun buku tentang nasikh dan mansukh dalam hadits, diantaranya :
•    An-Nasikh wal-Mansukh, karya Qatadah bin Di’amah As-Sadusi (wafat 118 H), namun tidak sampai ke tangan kita.
•    Nasikhul-Hadits wa Mansukhihi, karya ahli hadits ‘Iraq, Abu Hafsh Umar Ahmad Al-Baghdadi, yang dikenal dengan Ibnu Syahin (wafat 385 H).
•    Nasikhul-Hadits wa Mansukhihi, karya Al-Hafidh Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Atsram (wafat 261 H), shahabat Imam Ahmad.
•    Al-I’tibar fin-Nasikh wal-Mansukh minal-Atsar, karya Imam Al-Hafidh An-Nassabah Abu Bakar Muhammad bin Musa Al-Hazimi Al-Hamadani (wafat 584 H).
•    An-Nasikh wal-Mansukh, karya Abul-Faraj Abdurrahman bin ‘Ali, atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnul-Jauzi.
Sumber :
Ditulis oleh Abu Al Jauzaa
~ oleh Abu Al Maira di/pada Juli 5, 2007.
Ditulis dalam Ilmu Hadits
Satu Tanggapan to “ILMU HADITS : HADITS NASIKH DAN MANSUKH”
1.    Mungkin masih berhubungan dengan tema Nasikh Mansukh. Bukan di Ilmu Hadits secara khusus, namun ditinjau dari dzat Nasikh-Mansukhnya itu sendiri :
TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 106 : NASIKH WA MANSUKH
Oleh : Al-Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah
مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنّ اللّهَ عَلَىَ كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
”Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Baqaraha : 106).
Mengenai firman Allah { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ} “Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”, Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan, dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما , ia mengatakan : Artinya : ما نبدل من آية = “yang Kami (Allah) gantikan”.
Masih mengenai ayat yang sama, dari Mujahid, Ibnu Juraij meriwayatkan { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ} ”Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”, maksudnya adalah ما نمحو من آية = “ayat mana saja yang Kami (Allah) hapuskan”.
Ibnu Abi Nujaih meriwayatkan dari Mujahid, bahwa ia menuturkan : { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ} ”Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”, artinya : نثبت خطها ونبدل حكمها = “Kami (Allah) biarkan tulisannya, tetapi Kami ubah hukumnya”. Hal itu diriwayatkan dari beberapa shahabat Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه.
{ مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ} ”Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”, As-Suddi mengatakan : نسخها قبضها “Nasakh berarti menarik (menggenggamnya)”.
Sedangkan Ibnu Abi Hatim mengatakan : قبضها ورفعها “yaitu menggenggam dan mengangkatnya”; sebagaimana firman-Nya { «الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة»} ”Orang yang sudah tua, baik laki-laki maupun perempuan yang berzina, maka rajamlah keduanya”. Demikian juga firman-Nya : { «لو كان لابن آدم واديان من ذهب لابتغى لهما ثالثاً» } ”Seandainya Ibnu Adam mempunyai dua lembah emas, niscaya mereka akan mencari lembah yang ketiga”.
Masih berhubungan dengan firman-Nya : { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ} ”Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”, Ibnu Jarir mengatakan, artinya : Hukum suatu ayat yang Kami (Allah) pindahkan kepada lainnya dan Kami ganti dan ubah, yaitu mengubah yanghalal menjadi haram dan yang haram menjadi halal, yang boleh menjadi tidak boleh, dan yang tidak boleh menjadi boleh. Dan hal itu tidak terjadi kecuali dalam hal perintah, larangan, keharusan, muthlaq, dan ibahah (kebolehan). Sedangkan ayat-ayat yang berkenaan dengan kisah-kisah tidak mengalami nasikh maupun mansukh.
Kata an-naskhu ( النسخ) berasal dari naskhul-kitaab ( نسخ الكتاب ), yaitu menukil dari suatu naskah ke naskah lainnya ( وهو نقله من نسخة إلى أخرى غيرها ). Demikian halnya naskhul-hukmi ( نسخ الحكم ), berarti penukilan dan pemindahan redaksi ke redaksi yang lain, baik yang dinasakh itu hukum mapun tulisannya, karena keduanya tetap saja berkedudukan mansukh (dinasakh).
Firman-Nya { أَوْ نُنسِهَا} ”Atau Kami jadikan lupa”. Bisa dibaca dengan (salah satu dari) dua bacaan, yaitu nansa-ahaa ( ننسأها) dan nunsihaa ( ننسها ).
ننسأها berarti nu-akhkhiruhaa ( نؤخرها).
Mengenai firman Allah ta’ala : { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا}, Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما , ia mengemukakan, (artinya) : يقول ما نبدل من آية أو نتركها لا نبدلها Allah berfirman,”Ayat-ayat yang Kami rubah atau tinggalkan, tidak Kami ganti”.
Sedangkan Mujahid meriwayatkan dari beberapa shahabat Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, أو ننسأها berarti : نثبت خطها ونبدل حكمها “Kami tidak merubah tulisannya dan hanya merubah hukumnya saja”.
‘Athiyah Al-‘Aufi mengatakan nunsi-uhaa { أو ننسأها}, (berarti) : نؤخرها فلا ننسخها “Kami akhirkan ayat tersebut dan Kami tidak menghapusnya”.
Masih berkaitan dengan ayat { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا}, Adl-Dlahhak mengatakan : الناسخ والمنسوخ “yaitu nasikh dari yang mansukh”.
Mengenai bacaan au nunsihaa { أو ننسها}, ‘Abdur-razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah mengenai firman-Nya : { مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا}, ia mengatakan : كان الله عز وجل: ينسي نبيه صلى الله عليه وسلم ما يشاء, وينسخ ما يشاء “Allah subhanaahu wata’ala menjadikan Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam lupa dan menasakh ayat sesuai dengan kehendak-Nya”.
Ubaid bin ‘Umair mengatakan au nunsihaa { أو ننسها}, berarti : نرفعها من عندكم “Kami mengangkatnya dari kalian”.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما , ia menceritakan :
قال عمر: أقرؤنا أبيّ وأقضانا علي, وإِنا لندع من قول أبي, وذلك أن أبيا يقول: لا أدع شيئاً سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم, وقد قال الله: {ما ننسخ من آية أو ننسها} وقوله: {نأت بخير منها أو مثلها}, أي في الحكم بالنسبة إلى مصلحة المكلفين
“Umar bin Khaththab radliyallaahu ‘anhu mengatakan,”Orang yang terbaik bacaannya di antara kami adalah Ubay dan yang paling ahli dalam hukum adalah ‘Ali, dan kami akan meninggalkan kata-kata ‘Ubay dimana ia mengatakan : ‘Aku tidakakan meninggalkan sesuatu apapun yang aku dengan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam’; padahal Allah ta’ala telah berfirman : مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا ”Ayat mana saja yang Kami nasakh atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya” dan firman-Nya : { نَأْتِ بِخَيْرٍ مّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا } ”Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya”. Yaitu hal hukum yang berkaitan dengan kepentingan para mukallaf”.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas,mengenai firman-Nya : { نَأْتِ بِخَيْرٍ مّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا } ”Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya”, ia mengatakan : “Yaitu memberi manfaat yang lebih baik bagi kalian dan lebih ringan” ( خير لكم في المنفعة وأرفق بكم.).
Masih mengenai firman-Nya { نَأْتِ بِخَيْرٍ مّنْهَا أَوْ مِثْلِهَا } ”Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya”; Qatadah mengatakan : “Yaitu ayat yang di dalamnya mengandung pemberian keringanan, rukhshah, perintah, dan larangan”.
Dan firman Allah ta’ala :
ألم تعلم أن الله على كل شيء قدير * ألم تعلم أن الله له ملك السموات والأرض وما لكم من دون الله من ولي ولا نصير
”Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? Tidakkah engkau mengetahui bahwa kerajaan dan bumi adalah milik kepunyaan Allah? Dan tidak ada bagi kalian selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong”
Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullah mengatakan,”Penafsiran ayat tersebut adalah sebagai berikut : ‘Hai Muhammad, tidakkah engkau mengetahui bahwa hanya Aku (Allah) pemilik kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi. Di dalamnya Aku putuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Ku, dan di sana Aku mengeluarkan perintah dan larangan, dan (juga) menasakh, mengganti, serta merubah hukum-hukum yang Aku berlakukan di tengah-tengah hamba-Ku sesuai kehendak-Ku, jika Aku mengehendaki”.
Lebih lanjut Abu Ja’far mengatakan,”Ayat tersebut meskipun diarahkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk memberitahu keagungan Allah ta’ala, namun sekaligus hal itu dimaksudkan untuk mendustakan orang-orang Yahudi yang mengingkari nasakh (penghapusan) hukum-hukum Taurat dan menolak kenabian ‘Isa ‘alaihis-salam dan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Karena keduanya datang dengan membawa beberapa perubahan dari sisi Allah ‘azza wa jall untuk merubah hukum-hukum Taurat. Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi ini hanyalah milik-Nya, semua makhluk ini berada di bawah kekuasaan-Nya. Mereka harus tunduk dan patuh menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dia mempunyai hak memerintah dan melarang mereka, menasakh, menetapkan, dan membuat segala sesuatu menurut kehendak-Nya.
Berkenaan dengan hal tersebut, Penulis (Ibnu Katsir) katakan,”Yang membawa orang Yahudi membahas masalah nasakh ini adalah semata-mata karena kekufuran dan keingkarannya terhadap adanya nasakh tersebut. Menurut akal sehat, tidak ada suatu hal pun yang melarang adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah ta’ala, karena Dia dapat memutuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana Dia juga dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya. Yang demikian itu juga telah terjadi di dalam kitab-kitab dan syari’at-syari’at-Nya yang terdahulu. Misalnya, dahulu Allah ta’ala membolehkan Nabi Adam mengawinkan putrinya dengan putranya sendiri. Tetapi setelah itu Dia mengharamkan hal itu. Dia juga membolehkan Nabi Nuh setelah keluar dari kapal untuk memakan semua jenis hewan, tetapi setelah itu Dia menghapus penghalalan sebagiannya. Selain itu, dulu menikahi dua saudara puteri itu diperbolehkan bagi Israil (Nabi Ya’qub) dan anak-anaknya, tetapi halitu diharamkan di dalam syari’at Taurat dan kitab-kitab setelahnya. Dia juga pernah menyuruh Nabi Ibrahim ‘alaihis-salam menyembelih puteranya, tetapi kemudian Dia menasakhnya sebelum perintah itu dilaksanakan. Allah ta’ala juga memerintahkan mayoritas Bani Israil untuk membunuh orang-orang diantara mereka yang menyembah anak sapi, lalu Dia menarik kembali perintah pembunuhan tersebut agar tidak memusnahkan mereka.
Di samping itu, masih banyak lagi hal-hal yang berkenaan dengan masalah itu, orang-orang Yahudi sendiri mengakui dan membenarkannya. Dan jawaban-jawaban formal yang diberikan berkenaan dengan dalil-dalil ini, tidak dapat memalingkan sasaran maknanya, karena demikian itulah yang dimaksudkan. Dan sebagaimana yang masyhur tertulis di dalam kitab-kitab mereka mengenai kedatangan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dan perintah untuk mengikutinya. Hal itu memberikan pengertian yang mengharuskan untuk mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan bahwa suatu amalan tidak akan diterima kecuali yang didahulukan berdasarkan syari’atnya, baik dikatakan syari’atnya terdahulu itu terbatas sampai pengutusan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka yang demikian itu tidak disebut sebagai nasakh. Hal itu didasarkan oleh firman-Nya { ثم أتموا الصيام إلى الليل} ”Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam”. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa syari’at itu bersifat mutlaq, sedangkan syari’at Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam menasakhnya. Bagaimanapun adanya, mengikutinya (Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam) merupakan suatu keharusan, karena beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam datang dengan membawa sebuah kitab yang merupakan kitab terakhir dari Allah ta’ala.
Dalam hal ini, Allah ta’ala telah menjelaskan dibolehkannya nasakh sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi – la’natullaahi ‘alaihim – dimana Dia berfirman { ألم تعلم أن الله على كل شيء قدير * ألم تعلم أن الله له ملك السموات والأرض } ”Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? Tidakkah engkau mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?”
Sebagaimana Dia mempunyai kekuasaan tanpa ada yang menandinginya, demikian pula halnya Dia yang berhak memutuskan hukum menurut kehendak-Nya. { ألا له الخلق والأمر} ”Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah” (QS. Al-A’raf : 54). Dan di dalam surat Aali Imran yang mana konteks pembicaraan pada bab awal surat tersebut ditujukan kepada Ahlul-Kitab juga terdapat nasakh : { كل الطعام كان حلاً لبني إسرائيل إلا ما حرم إسرائيل على نفسه } ”Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Nabi Ya’qub) untuk dirinya sendiri”. Sebagaimana penafsiran ayat ini akan kami sampaikan pada pembahasan selanjutnya.
Kaum muslimin secara keseluruhan sepakat membolehkan adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah ta’ala, karena di dalamnya terdapat hikmah yang sangat besar. Dan mereka semua mengakui terjadinya nasakh tersebut.
Seorang mufassir, Abu Muslim Al-Asbahani mengatakan : “Tidak ada nasakh dalam Al-Qur’an”. Pendapat Abu Muslim itu sangat lemah dan patut dotolak. Dan sangat mengada-ada dalam memberikan jawaban berkenaan dengan terjadinya nasakh. Misalnya (pendapat) mengenai masalah ‘iddah seorang wanita yang berjumlah empat bulan sepuluh hari setelah satu tahun. Dia tidak dapat memberikan jawaban yang diterima. Demikian halnya masalah pemmindahan Kiblat dari Baitul-Maqdis ke Ka’bah, juga tidak memberikan jawaban sama sekali. Juga penghapusan kewajiban bersabar menghadapi kaum kafir satulawan sepuluh menjadi satu lawan dua. Dan juga penghapusan (nasakh) kewajiban membayar sedekah sebelum mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan lain-lain.
والله أعلم
 Abu Al-Jauzaa’ dibahas juga di dalam Mei 13, 2008 pada 12:46 pm | Balas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s