KATA PENGANTAR
    Puji dan syukur di persembahkan ke hadirat allah SWT, karena berkat Taufik dan hidayah-Nya sehingga tema yang menjadi Judul penyusunan makalah ini yaitu “Lingkungan Dalam Islam” dengan mengangkat 4 Judul artikel yang berkaitan dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarganya dan sahabatnya.
    Penyusunan  makalah ini mencoba memberikan gambaran tentang peta permasalahan lingkungan hidup dari sudut pandang perspektif islam serta sekaligus menawarkan alternatif pemecahannya. Namun, demikian di yakini bahwa makalah ini jauh dari sempurna, masih terdapat kekurangan dan kelemahan.
    Menyadari hal demikian itu, penyusun berharap kiranya dapat memberikan saran dan kritik guna perbaikan dan penyempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Akhirnya kita berdoa, mudah-mudahan upaya ini menjadi amal ibadah yang di ridhai Allah SWT.Amiiin……..

Watampone, 5 Maret 2010

penyusun
 

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1        PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
B.    Rumusan masalah
C.    Maksud dan Tujuan
Bab 2    PEMBAHASAN
A.    Prinsip Etika Lingkungan Hidup Dalam Islam
B.    Islam Dan Penyelamatan Lingkungan
C.    Tanggapan /Pendapat Manusia Terhadap Persoalan Lingkungan Hidup di Indonesia
D.    Kegiatan Penghijauan Masyarakat Yang di Lakukan Oleh Beberapa Negara
Bab 3    PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.    Saran –saran
DAFTAR PUSTAKA
 
BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Lingkungan merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia. Lingkungan ini di huni oleh komponen ekosistem baik manusia, hewan, tumbuhan, maupun makhluk abiotik lainnya. Setiap anggota komunitas sosial mempunyai kewajiban untuk menghargai kehidupan bersama, demikian pula setiap anggota komunitas ekologis harus menghargai dan menghormati setiap kehidupan spesies dalam komunitas ekologis itu serta mempunyai kewajiban moral untuk menjaga kehesivitas dan integritas komunitas ekologis, alam tempat hidup manusia ini.
Akan tetapi permasalahan lingkungan di indonesia sangat mengkhawatirkan akibat ulah-ulah tangan manusia itu sendiri bahkan berujung pada bencana. Misalnya kebakaran hutan yang hampir menjadi tahunan di kalimantan dan sumatra yang mengakibatkan hancurnya hutan longsor yang terjadi di beberapa daerah dan mengakibatkan kerugian tidak hanya materi tetapi juga nyawa.  Semua bencana lingkungan , baik banjir, longsor maupun lainnya selama ini selalu di hubungkan dengan takdir atau kehendak Tuhan. Tuhanlah yang mengakibatkan terjadinya bencana dan Tuhanlah yang di jadikan alasan terakhir manusia ketika terjadi bencana tersebut, karena ada keyakinan umat beragama bahwa bencana adalah cobaan atau siksaan yang diberikan Tuhan kepada umat manusia. Agaknya pemahaman umat islam terhadap teologi lingkungan masih sangat minim, mereka tersadar ketika bencana alam datang. Namun, kesadaran tersebut juga bukan kesadaran akan apa yang telah dilakukan terhadap lingkungannya malah kesadaran bahwa mereka tidak taat ibadah dan lupa terhadap tuhannya. Padahal kalau kita tarik sejarah, Nabi memerintahkan sahabatnya ketika akan berlaga dalam medan perang untuk tidak merusak pohon bahkan memotong dahan atau ranting pohon. Oleh karena itul,kita harus kembali ke ajaran agama untuk terus menjaga lingkungan kita.
Burlinton,vermont di pedalaman Jawa Tengah.pulau terdapat di indonesia, terdapat bentuk gerakan lingkungan hidup yang tidak biasa. Di bayangi oleh gunung merapi dan di kelilingi oleh sawah dan ladang tebu yang subur, sebuah sekolah kecil mencetak para aktivis lingkungan hidup yang komitmennya terhadap bumi tidak di landaskan pada buku teks konservasi dari barat,tetapi lebih di dasarkan kepada nilai-nilai Islam.
B.    Rumusan Masalah
1.    Apa prinsip-prinsip etika lingkungan hidup dalam islam ?
2.    Bagaimana konsep atau cara islam dalam menyelamatkan lingkungan hidup ?
3.    Bagaimana pendapat manusia terhadap lingkungan hidup di indonesia
4.    Seperti apa kegiatan penghijauan masyarakat yang dilakukan oleh beberapa negara ?
C.    Maksud Dan Tujuan Penulisan
Dari berbagai prinsip-prinsip etika lingkungan hidup dalam islam, konsep atau cara islam dalam menyelamatkan lingkungan hidup, dan pemikiran manusia terhadap persoalan lingkungan hidup terutama di indonesia serta kegiatan penghijauan masyarakat yang dilakukan oleh beberapa negara merupakan pembahasan menarik untuk di bahas untuk mengetahui
 

BAB II
PEMBAHASAN

1)    PRINSIP ETIKA LINGKUNGAN HIDUP DALAM ISLAM
Lingkungan merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia. Sehingga lingkungan harus dipandang sebagai salah satu komponen ekosistem yang memiliki nilai untuk dihormati, dihargai, dan tidak disakiti, lingkungan memiliki nilai terhadap dirinya sendiri. Integritas ini menyebabkan setiap perilaku manusia dapat berpengaruh terhadap lingkungan disekitarnya. Perilaku positif dapat menyebabkan lingkungan tetap lestari dan perilaku negatif dapat menyebabkan lingkungan menjadi rusak. Integritas ini pula yang menyebabkan manusia memiliki tanggung jawab untuk berperilaku baik dengan kehidupan di sekitarnya. Kerusakan alam diakibatkan dari sudut pandang manusia yang anthroposentris, memandang bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta. Sehingga alam dipandang sebagai objek yang dapat dieksploitasi hanya untuk memuaskan keinginan manusia, hal ini telah disinggung oleh Allah SWT dalam Al Quransurah Ar Ruum ayat 41:
 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar merekakembali(kejalanyangbenar).

Luas hutan di Indonesia adalah sebesar 120,35 juta hektar, terdiri dari hutan produksi 66,35 juta hektar, hutan lindung 33,50 juta hektar, hutan konservasi 20,50 juta hektar. Penutupan vegetasi di dalam kawasan hutan mencapai 88 juta hektar (Sinar Harapan, 2008). Tutupan hutan di Indonesia memiliki luas sebesar 130 juta hektar, menurut World Reseach Institute (sebuah lembaga think tank di Amerika Serikat), 72 persen hutan asli Indonesia telah hilang, berarti sisa luasan hutan Indonesia hanya sebesar 28 persen. Kemudian data Departemen Kehutanan sendiri mengungkapan bahwa 30 juta hektar hutan di Indonesia telah rusak parah, atau sebesar 25 persen(Khofid, 2004). Data-data ini menunjukan bahwa kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, telah mencapai tingkat yang parah. Sehingga berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan pendidikan lingkungan untuk mengubah sudut pandang dan perilaku manusia.
Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus dipenuhi saat manusia berinteraksi dengan lingkungan hidup. Prinsip-prinsip ini terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut. Berikut adalah prinsip-prinsip yang dapat menjadi pegangan dan tuntunan bagi perilaku manusia dalam berhadapan dengan alam, baik perilaku terhadap alam secara langsung maupun perilaku terhadap sesama manusia yang berakibat tertentu terhadap alam:
1.SikapHormatterhadapAlam(RespectForNature)
Di dalam AlQur’an surat Al-Anbiya 107, Allah SWT berfirman:
 
Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Rahmatan lil alamin bukanlah sekedar motto Islam, tapi merupakan tujuan dari Islam itu sendiri. Sesuai dengan tujuan tersebut, maka sudah sewajarnya apabila Islam menjadi pelopor bagi pengelolaan alam dan lingkungan sebagai manifestasi dari rasa kasih bagi alam semesta tersebut. Selain melarang membuat kerusakan di muka bumi, Islam juga mempunyai kewajiban untuk menjaga lingkungan dan menghormati alam semesta yang mencakup jagat raya yang didalamya termasuk manusia, tumbuhan, hewan, makhluk hidup lainnya, serta makhluk tidak hidup.
Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Seperti halnya, setiap anggota komunitas sosial mempunyai kewajiban untuk menghargai kehidupan bersama (kohesivitas sosial), demikian pula setiap anggota komunitas ekologis harus menghargai dan menghormati setiap kehidupan dan spesies dalam komunitas ekologis itu, serta mempunyai kewajiban moral untuk menjaga kohesivitas dan integritas komunitas ekologis, alam tempat hidup manusia ini. Sama halnya dengan setiap anggota keluarga mempunyai kewajiban untuk menjaga keberadaan, kesejahteraan, dan kebersihan keluarga, setiap anggota komunitas ekologis juga mempunyai kewajiban untuk menghargai dan menjaga alam ini sebagai sebuah rumah tangga.
2. Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility For Nature)
Terkait dengan prinsip hormat terhadap alam di atas adalah tanggung jawab moral terhadap alam, karena manusia diciptakan sebagai khalifah (penanggung jawab) di muka bumi dan secara ontologis manusia adalah bagian integral dari alam. Sesuai dengan firman
AllahdalamsurahalBaqarah:30
 
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.
Kenyataan ini saja melahirkan sebuah prinsip moral bahwa manusia mempunyai tanggung jawab baik terhadap alam semesta seluruhnya dan integritasnya, maupun terhadap keberadaan dan kelestariannya Setiap bagian dan benda di alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya masing-masing, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak. Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari alam semesta, bertanggung jawab pula untuk menjaganya.
3.Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)
Terkait dengan kedua prinsip moral tersebut adalah prinsip solidaritas. Sama halnya dengan kedua prinsip itu, prinsip solidaritas muncul dari kenyataan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Lebih dari itu, dalam perspektif ekofeminisme, manusia mempunyai kedudukan sederajat dan setara dengan alam dan semua makhluk lain di alam ini. Kenyataan ini membangkitkan dalam diri manusia perasaan solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain.
4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian terhadap Alam (Caring For Nature)
Sebagai sesama anggota komunitas ekologis yang setara, manusia digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi. Kasih sayang dan kepedulian ini juga muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota komunitas ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat. Sebagaimana dimuat dalam sebuah Hadis shahih yang diriwayatkanolehShakhihain:
 
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak seorang pun muslim yang menanam tumbuhan atau bercocok tanam, kemudian buahnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak, kecuali yang dimakan itu akan bernilai sedekah untuknya.”
Dalamhadislaindijelaskan
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah dua perbuatan yang mendatangkan laknat!” Sahabat-sahabat bertanya, ”Apakah dua perbuatan yang mendatangkan laknat itu?” Nabi menjawab, “Orang yang buang air besar di jalan umum atau di tempat berteduh manusia

Rabu, 05-12-2007
2)Islam dan Penyelamatan Lingkungan
Krisis lingkungan sudah sampai pada tahap yang mengancam eksistensi bumi sebagai tempat tinggal manusia dan makhluk lain.  Krisis lingkungan yang terjadi saat ini sebenarnya bersumber pada kesalahan fundamentalis-filosofis dalam pemahaman ataucara pandang manusia terhadap dirinya, alam, dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Kesalahan itu menyebabkan kesalahan pola perilaku manusia, terutama dalam berhubungan dengan alam.  Aktivitas produksi dan perilaku konsumtif gila-gilaan melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif. Di samping itu, paham materialisme, kapitalisme, dan pragmatisme dengan kendaraan sains dan teknologi telah ikut mempercepat dan memperburuk kerusakan lingkungan.
Upaya untuk penyelamatan lingkungan telah banyak dilakukan baik melalui penyadaran kepada masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholders), upaya pembuatan peraturan, kesepakatan nasional dan internasional, undang-undang maupun melalui penegakan hukum. Penyelamatan melalui pemanfaatan sains dan teknologi serta program program teknis lain juga telah banyak dilakukan. Islam mempunyai konsep yang sangat jelas tentang pentingnya konservasi, penyelamatan, dan pelestarian lingkungan. Konsep Islam tentang lingkungan ini ternyata sebagian telah diadopsi dan menjadi prinsip ekologi yang dikembangkan oleh para ilmuwan lingkungan. Prinsip-prinsip ekologi tersebut telah pula dituangkan dalam bentuk beberapa kesepakatan dan konvensi dunia yang berkaitan dengan lingkungan. Akan tetapi, konsep Islam yang sangat jelas tersebut belum dimanfaatkan secara nyata dan optimal. Maka, harus segera dilakukan penggalian secara komprehensif tentang konsep Islam yang berkaitan dengan lingkungan serta implementasi dan revitalisasinya. Konsep Islam ini kemudian bisa digunakan sebagai dasar pijakan (moral dan spiritual) dalam upaya penyelamatan lingkungan atau bisa disebut sebagai “teologi lingkungan”. Sains dan teknologi saja tidak cukup dalam upaya penyelamatan lingkungan yang sudah sangat parah dan mengancam eksistensi dan fungsi planet bumi ini. Permasalahan lingkungan bukan hanya masalah ekologi semata, tetapi menyangkut teologi. Pusat perhatian
Pengertian “teologi” dalam konteks ini adalah cara “menghadirkan” dalam setiap aspek kegiatan manusia. Dalam bahasa lain, teologi dapat dimaknai sebagai konsep berpikir dan bertindak yang dihubungkan dengan “Yang Gaib” yang menciptakan sekaligus mengatur manusia dan alam. Jadi, terdapat tiga pusat perhatian (komponen) bahasan yakni Tuhan, manusia, dan alam, yang ketiganya mempunyai kesatuan hubungan fungsi dan kedudukan. Jadi, teologi hubungan antara manusia dan alam dengan Tuhan adalah “konsep berpikir dan bertindak tentang lingkungan hidup yang mengintegrasikan aspek fisik (alam termasuk hewan dan tumbuhan), manusia dan Tuhan” Realitas alam ini tidak diciptakan dengan ketidaksengajaan (kebetulan atau main-main) sebagaimana pandangan beberapa saintis barat, tetapi dengan rencana yang benar al-Haq (Q.S. Al-An’am: 73; Shaad: 27; Al-Dukhaan: 38-39). Oleh karena itu, menurut perspektif Islam, alam mempunyai eksistensi riil, objektif, serta bekerja sesuai dengan hukum yang berlaku tetap (qodar). Pandangan Islam tidak sebagaimana pandangan aliran idealis yang menyatakan bahwa alam adalah semu dan maya.
Pandangan Islam tentang alam (lingkungan hidup) bersifat menyatu (holistik) dan saling berhubungan yang komponennya adalah Sang Pencipta alam dan makhluk hidup (termasuk manusia). Dalam Islam, manusia sebagai makhluk dan hamba Tuhan, sekaligus sebagai wakil (khalifah) Tuhan di muka bumi (Q.S. Al-An’am: 165). Manusia mempunyai tugas untuk mengabdi, menghamba (beribadah) kepada Sang Pencipta (Al-Kholik). Tauhid merupakan sumber nilai sekaligus etika yang pertama dan utama dalam teologi pengelolaan lingkungan. Konsep lingkungan Asas keseimbangan dan kesatuan ekosistem hingga saat ini masih banyak digunakan oleh para ilmuwan dan praktisi lingkungan dalam kegiatan pengelolaan lingkungan. Asas tersebut juga telah digunakan sebagai landasan moral untuk semua aktivitas manusia yang berkaitan dengan lingkungannya. Akan tetapi, asas keseimbangan dan kesatuan tersebut masih terbatas pada dimensi fisik dan duniawiah dan belum atau tidak dikaitkan dengan dimensi supranatural dan spiritual terutama dengan konsep (teologi) penciptaan alam. Jadi, terdapat keterputusan hubungan antara alam sebagai suatu realitas dan realitas yang lain yakni yang menciptakan alam. Dengan kata lain, nilai spiritualitas dari asas tersebut tidak terlihat. Islam merupakan agama (jalan hidup) yang sangat memerhatikan tentang lingkungan dan keberlanjutan kehidupan di dunia. Banyak ayat Alquran dan hadis yang menjelaskan, menganjurkan bahkan mewajibkan setiap manusia untuk menjaga kelangsungan kehidupannya dan kehidupan makhluk lain dibumi. Konsep yang berkaitan dengan penyelamatan dan konservasi lingkungan (alam) menyatu tak terpisahkan dengan konsep keesaan Tuhan (tauhid), syariah, dan akhlak. Setiap tindakan atau perilaku manusia yang berhubungan dengan orang lain atau makhluk lain atau lingkungan hidupnya harus dilandasi keyakinan tentang keesaan dan kekuasaan Allah SWT. yang mutlak. Manusia juga harus bertanggung jawab kepada-Nya untuk semua tindakan yang dilakukannya. Hal ini juga menyiratkan bahwa pengesaan Tuhan merupakan satu-satunya sumber nilai dalam etika. Bagi seorang Muslim, tauhid seharusnya masuk ke seluruh aspek kehidupan dan perilakunya. Dengan kata lain, tauhid merupakan sumber etika pribadi dan kelompok, etika sosial, ekonomi dan politik, termasuk etika dalam mengembangkan sains dan teknologi.
Di dalam ajaran Islam, dikenal juga dengan konsep yang berkaitan dengan penciptaan manusia an alam semesta yakni konsep Khilafah dan Amanah. Konsep khilafah menyatakan bahwa manusia telah dipilih oleh Allah di muka bumi ini (khalifatullah fil’ardh). Sebagai wakil Allah, manusia wajib untuk bisa merepresentasikan dirinya sesuai dengan sifat-sifat Allah. Salah satu sifat Allah tentang alam adalah sebagai pemelihara atau penjaga alam (rabbul’alamin). Jadi sebagai wakil (khalifah) Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan bertanggung jawab untuk menjaga bumi. Artinya, menjaga keberlangsungan fungsi bumi sebagai tempat kehidupan makhluk Allah termasuk manusia sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupannya.
Manusia mempunyai hak atau diperbolehkan untuk memanfaatkan apa-apa yang ada di muka bumi (sumber daya alam) yang tidak melampaui batas atau berlebihan (Al-An’am: 141-142). Manusia baik secara individu maupun kelompok tidak mempunyai hak mutlak untuk menguasai sumber daya alam yang bersangkutan istilah “penaklukan” atau “penguasaan” alam seperti yang dipelopori oleh pandangan barat yang sekuler dan materialistik tidak dikenal dalam Islam. Islam menegaskan bahwa yang berhak menguasai dan mengatur alam adalah Yang Maha Pencipta dan Maha Mengatur yakni Rabbul Alamin. Hak penguasaannya tetap ada pada Tuhan Pencipta. Manusia wajib menjaga kepercayaan atau amanah yang telah diberikan oleh Allah tersebut. Dalam konteks ini, alam terutama bumi tempat tinggal manusia merupakan arena uji bagi manusia. Agar manusia bisa berhasil dalam ujiannya, ia harus bisa membaca “tanda-tanda” atau” ayat-ayat” alam yang ditujukan oleh Sang Maha Pengatur Alam. Salah satu agar manusia mampu membaca ayat-ayat Tuhan, manusia harus mempunyai pengetahuan dan ilmu. Lingkungan alam ini oleh Islam dikontrol oleh dua konsep (instrumen) yakni halal dan haram. Halal bermakna segala sesuatu yang baik, menguntungkan, menenteramkan hati, atau yang berakibat baik bagi seseorang, masyarakat maupun lingkungan. Sebaliknya segala sesuatu yang jelek, membahayakan atau merusak seseorang, masyarakat dan lingkungan adalah haram. Jika konsep tauhid, khilafah, amanah, halal, dan haram ini kemudian digabungkan dengan konsep keadilan, keseimbangan, keselarasan, dan kemaslahatan maka terbangunlah suatu kerangka yang lengkap dan komprehensif tentang etika lingkungan dalam perspektif Islam. Konsep etika lingkungan tersebut mengandung makna, penghargaan yang sangat tinggi terhadap alam, penghormatan terhadap saling keterkaitan setiap komponen dan aspek kehidupan, pengakuan terhadap kesatuan penciptaan dan persaudaraan semua makhluk serta menunjukkan bahwa etika (akhlak) harus menjadi landasan setiap perilaku dan penalaran manusia. Kelima pilar etika lingkungan tersebut sebenarnya juga merupakan pilar syariah Islam. Syariah yang bermakna lain as-sirath adalah sebuah “jalan” yang merupakan konsekuensi dari persaksian (syahadah) tentang keesaan Tuhan. ***
Penulis :Oleh H. HIKMAT TRIMENDA
Aktivis di Lembaga Bina Lingkungan (Lembing) dan wakil ketua pimpinan cabang Muhammadiyah Sumur Bandung
3) TEOLOGI LINGKUNGAN HIDUP
  Sumbangan Pemikiran untuk Hari Bumi 22 April 2007
“Telah nampak kerusakan di darat dan lautan
disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (kejalan yang benar )
(Q.S. Ar-Rum [30]: 41)
persoalan lingkungan di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan, bahkan sudah berujung pada bencana. Misalnya adalah kebakaran hutan yang hamper menjadi tahunan di Kalimantan dan Sumatera yang mengakibatkan hancurnya hutan. Longsor yang terjadi di beberapa daerah dan mengakibatkan kerugian tidak hanya materi tapi juga nyawa. Banjir yang melanda—tidak hanya—sebagian besar wilayah Jakarta baru-baru ini yang membuat lumpuh Ibukota selama setidaknya dua hari dengan kerugian triliunan rupiah. Krisis lingkungan tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi sudah menjadi krisis dunia, karena semua negara memiliki persoalan lingkungan, walau tingkat kerusakannya berbeda. Semua bencana lingkungan, baik banjir, longsor, maupun lainnya selama ini selalu dihubungkan dengan takdir atau kehendak Tuhan. Tuhan lah yang mengakibatkan terjadinya bencana dan Tuhan lah yang dijadikan alasan terakhir manusia ketika terjadi bencana tersebut, karena ada keyakinan umat beragama bahwa bencana adalah cobaan atau siksaan yang diberikan Tuhan kepada umat manusia. Akhirnya banyak orang berbondong-bondong ‘lari’ ke masjid untuk kembali berdoa, bertobat dengan mencucurkan air mata. Semua kejadian bencana lingkungan sepenuhnya dilimpahkan kepada Tuhan sebagai penyebab, bukan manusia.
Padahal menurut laporan Millennium Ecosystems Assessment Report (2005), manusia saat ini sedang membinasakan sistem yang mendukung kehidupan mereka sendiri dalam taraf yang mengkhawatirkan. Data menunjukkan bahwa manusialah yang menjadi penyebab perubahan iklim, meracuni udara, air, dan tanah; sehingga kesehatan manusia—dan banyak spesies lainnya—yang ada ikut terancam keberadaannya. Selain itu, ledakan populasi dalam abad 20 dari 2 menjadi 6 milyar penduduk akan menyebabkan kendala yang akan berbenturan dengan masalah sumberdaya alam.
Para ilmuwan telah mendokumentasikan bahwa kita hidup di tengah ancaman kepunahan periode keenam, yang diindikasikan oleh banyaknya spesies yang punah pertahun. Sekarang ini, dinyatakan lebih dari 10.000 spesies punah setiap tahun Itu bermakna bahwa periode ini adalah sama dengan lajunya kepunahan spesies dalam 65 juta tahun, di mana saat itu dinosaurus turut musnah. Dengan kata lain, kita sedang mematikan sistem kehidupan kita sendiri di planet bumi dan mendahului era geologis yang sedang berjalan. Pertanyaannya adalah mengapa manusia tidak peduli dengan lingkungannya sendiri. Jika dikaitkan dengan Islam, apakah ajaran Islam cukup memadai untuk menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan hidup (hifz al-bi’ah)? Agaknya menjadi keharusan bagi kalangan ulama dan akademisi untuk merumuskan apa yang disebut dengan teologi dan fikih lingkungan (fiqh al-bi’ah). Jika kita membaca Al-Qur’an, dipastikan akan banyak ditemukan ayat yang berbicara tentang air, udara dan tanah. Bahkan, menurut Ali Yafie di dalam buku terbarunya “Merintis Fikih Lingkungan Hidup”, tidak kurang 95 ayat yang berbicara tentang lingkungan beserta larangan-larangan Allah untuk berbuat kerusakan. Untuk menyebut di antaranya adalah Al-Baqarah/2:11, 12, 27, 30, 60, 220, 251; Ali Imran/3: 63; Al-Maidah/5: 64; dan Al-A’raf/7:56, 74, 85, 86, 103, 127, 142. Demikian pula hadist-hadist Nabi yang berbicara tentang lingkungan hidup juga tidak sedikit. Di dalam buku yang telah disebut di muka Ali Yafie mencatat 12 hadist yang secara langsung memberi panduan moral dan hukum tentang perlunya menjaga lingkungan.
Dalam Islam, rujukan untuk mengatur lingkungan hidup telah jelas termaktub dalam kitab suci, bahkan pernyataan bahwa terjadinya kerusakan di bumi dan di laut disebabkan oleh manusia juga sangat jelas ada di dalam al-Qur’an. Namun kenapa banyak orang Islam tidak memiliki sensivitas terhadap lingkungannya? Padahal agamanya mengajarkan dan memerintahkan untuk menjaga lingkungan, melarang melakukan perusakan terhadap lingkungan, namun yang terjadi sebaliknya. Banyak umat Islam yang mengabaikan ajaran tersebut. Pemahaman umat Islam terhadap teologi lingkungan masih sangat minim, mereka tersadar ketika bencana alam datang. Namun, kesadaran tersebut juga bukan kesadaran akan apa yang telah dilakukan terhadap lingkungannya malah kesadaran bahwa mereka tidak taat ibadah dan lupa terhadap Tuhannya. Pemahaman keagamaan sebagian umat Islam terhadap perusakan ekosistem masih dianggap sebagai sesuatu yang sangat biasa dan tidak merupakan dosa besar. Padahal kalau kita tarik sejarah, Nabi memerintahkan sahabatnya ketika akan berlaga dalam medan perang untuk tidak merusak pohon bahkan memotong dahan atau ranting pohon—di antara larangan membunuh musuh yang menyerah, perempuan, anak-anak dan orang tua. Demikian juga ajaran dalam ibadah haji, bahwa umat Islam ketika sedang melakukan ibadah haji—khususnya ketika wukuf di Arafah—dilarang untuk merusak tanaman dan tumbuh-tumbuhan termasuk membunuh binatang. Sebagai refleksi, mari kita kembali merenungi apa yang telah kita lakukan, apa yang telah terjadi pada kita, terutama bencana yang sering terjadi. Kita harus kembali ke ajaran agama untuk terus menjaga lingkungan kita.
Jakarta, 22 April 2007
Muhammad Nuruzaman, Lingkar Studi CS
Rukan Permata Senayan No.A/6
Jln.Tentara Pelajar, Patal Senayan
Jakarta 12210, Indonesia
Telp. (021) 579 40610, Fax. (021) 579 40611
http://www.csrindonesia.com, e-mail: office@csrindonesia.coms

Madrasah Hijau Indonesia
oleh Saleem H. Ali
08 Februari 2008
Burlington, Vermont – Di pedalaman Jawa Tengah, pulau terpadat di Indonesia, terdapat bentuk gerakan lingkungan hidup yang tidak biasa. Dibayangi oleh Gunung Merapi dan dikelilingi oleh sawah dan ladang tebu yang subur, sebuah sekolah kecil mencetak para aktivis lingkungan hidup yang komitmennya terhadap bumi tidak dilandaskan pada buku-buku teks konservasi dari Barat, tapi lebih didasarkan kepada nilai-nilai Islam. Sang kepala sekolah, Nasruddin Anshari, kerap mengulang kalimat “satu bumi bagi semua”, sebanyak dia biasa mengucapkan “Allahu Akbar”.
Sekolah pesantren di Indonesia telah dicermati sedemikian rupa beberapa tahun belakangan, akibat anggapan adanya hubungan antara pesantren dengan insiden terorisme seperti bom Bali pada tahun 2005. Bahkan kandidat presiden Barack Obama merasa harus menjauhkan diri dari masa-masa kecilnya di Indonesia, karena bertiupnya rumor bahwa dia pernah bersekolah di pesantren, oleh sebab ayah kandung maupun ayah tirinya adalah Muslim.
Namun transformasi yang bertempat di Pesantren Lingkungan Giri Ilmu pasti akan menyenangkan para pemilih di Barat. Anak-anak dari desa Bantul belajar tentang pentingnya melindungi ekosistem mereka sebagai tanda keimanan pada Tuhan.  Tak jauh dari pesantren yang ramah lingkungan ini, Universitas Perdamaian yang amanatkan PBB mengadakan workshop selama sepekan mengenai pendidikan perdamaian dalam konteks Islam pada November 2007 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Para cendekiawan dari sejumlah negara Islam berkunjung untuk mempertimbangkan berbagai dimensi pendidikan perdamaian dan mengembangkan rancangan pelajaran untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah Islam.  Islam sebagai agama yang terorganisir muncul di lingkungan gurun pasir Arabia, dan sejak itu perhatian yang sungguh-sungguh diberikan kepada masalah-masalah ekologi dalam etika Islam.
Meskipun teologi Islam bukanlah panteisme, dan memiliki banyak persamaan antroposentris dengan agama-agama Ibrahim lainnya, namun ada semacam penghormatan terhadap alam, yang berasal dari pragmatisme esensial dalam agama tersebut. Karena kelangkaan sumber daya, umat Muslim awal menyadari bahwa pengembangan jangka panjang hanya dimungkinkan dalam pemeliharaan ekologi yang dilakukan oleh seluruh umat manusia. Karenanya, kesemestaan sumber-sumber daya lingkungan hidup menyediakan model yang berharga untuk membangun perdamaian. Walau demikian, ada beberapa tantangan sistemik terhadap realisasi paradigma pengembangan berkelanjutan dalam Islam kontemporer. Pertama, keyakinan Islam bahwa manusia adalah mahluk Tuhan yang paling utama, menghadapi tantangan serius untuk menanamkan etika lingkungan hidup, terutama berhubungan dengan hak-hak binatang. Namun, terdapat sejumlah perintah tentang tanggung jawab yang muncul seiring dengan status sebagai “mahluk utama.” Konsep khalifah mensyaratkan para khalifah untuk merawat/mengurus bumi dan semua mahluk di atasnya. Kedua, fokus kepada kehidupan sesudah mati daripada masa kini telah membuat banyak Muslim menganggap tantangan lingkungan hidup dan pembangunan sebagai hal yang sepele. Hal ini mengarah pada puas diri dan fatalisme tentang masalah dalam pembangunan, karena hal itu dianggap sebagai takdir Tuhan. Tapi fatalisme ini tak lagi meresap di antara umat Muslim yang taat di Indonesia. Sekolah-sekolah Islam di negara Islam terbesar di dunia ini menyadari bahwa ibadah yang paling besar adalah memelihara sumber daya alam tempat kehidupan semua mahluk bertumpu. Seperti halnya bunuh diri dilarang dalam Islam karena penghargaan yang mendalam terhadap kesucian jiwa, begitu pula halnya dengan merusak sistem pendukung kehidupan yang membuat planet kita begitu unik.
Di luar Indonesia, ada beberapa tanda perubahan positif yang menjanjikan. Islamic Foundation for Ecology and Environmental Science, yang berbasis di Birmingham, Inggris, sedang mengembangkan sejumlah program untuk institusi-institusi keagamaan di negara-negara Islam di seluruh dunia. Pada akhir 2006, US Agency for International Development meluncurkan program pendidikan lingkungan hidup di Tanzania yang menargetkan 12.650 murid sekolah dasar dan 12.650 murid madrasah, melatih 220 guru sekolah dasar dan 220 guru madrasah tentang masalah-masalah ekosistem pantai dan laut. Bahkan negara-negara seperti Iran mengambil langkah positif dalam hal ini dan cukup bangga akan fakta kesuksesan Konvensi Ramsar tentang Perlindungan Rawa, yang mengambil nama dari salah satu kota di Iran saat konvensi itu ditandatangani pada 1971. Meskipun Iran mengalami konflik beberapa tahun sesudahnya, dan mengabaikan soal lingkungan hidup, namun pada tahun 2004, pemerintah Iran membuat konferensi internasional tentang keamanan lingkungan hidup, yang juga mengundang Amerika. Konferensi ini telah membangun landasan yang kuat untuk menggunakan konservasi lingkungan hidup dalam menciptakan perdamaian. Mantan presiden Iran, Mohammad Khatami, menyatakan bahwa, “Polusi merupakan ancaman yang lebih besar daripada perang dan perjuangan untuk memelihara lingkungan hidup mungkin merupakan isu paling positif untuk mempersatukan negara-negara teluk.” Negara-negara teluk juga berusaha untuk mengurangi jejak hitam ekologi mereka yang amat besar. Abu Dhabi telah berkomitmen untuk membangun kota bebas karbon pertama di dunia dengan 40.000 jiwa penduduk pada tahun 2012. Dan Kota Masdar akan mengutamakan institusi pendidikan dan sejumlah perusahaan teknologi ramah lingkungan untuk mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan.  Jika energi para cendekiawan Muslim Pakistan dan madrasahnya, serta kaisar pembangunan kita bisa disalurkan ke arah kegiatan sosial dan lingkungan hidup yang positif semacam itu, mungkin kita bisa mulai menghargai persamaan kita sebagai manusia. Daripada berbicara terus tentang retorika yang memecah-belah suku dan sekte, atau bujukan politik, kita lebih memiliki kepentingan teologis dan teleologis untuk “menghijaukan masyarakat kita.” * Dr. Saleem H Ali (saleem@alum.mit.edu) adalah wakil dekan pendidikan tinggi di University of Vermont’s Rubenstein School of Environment dan editor Peace Parks: Conservation and Conflict Resolution (MIT Press).
 

Bab III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ada beberapa prinsip-prinsip yang harus dipenuhi saat manusia berinteraksi dengan lingkungan hidup. Prinsip- prinsip ini terbuka untuk di kembangkan lebih lanjut. Berikut adalah prinsip-prinsip yang dapat menjadi pegangan dan tuntunan bagi perilaku manusia dalam berhadapan dengan alam yakni sikap hormat terhadap alam, prinsip tanggung jawab, solidaritas kosmis dan prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam.
Krisis lingkungan sudah sampai pada tahap yang mengancam eksistensi bumi sebagai tempat tinggal manusia dan makhluk lain. Dalam hal ini,islam mempunyai konsep yang sangat jelas tentang pentingnya konservasi,penyelamatan, dan pelestarian lingkungan. Konsep tersebut merupakan teologi yang dapat dimaknai sebagai konsep berfikir dan bertindak. Selain itu, dikenal juga konsep khilafah dan Amanah,serta konsep keadilan,keseimbanan, keselarasan dan kemaslahatan maka terbangunlah suatu kerangka yang lengkap dan komprehensif tentang etika lingkungan hidup dalam perspektif islam.
Tanggapan manusia terhadap persoalan lingkungan hidup masih sangat minim. Semua bencana lingkungan, baik banjir, longsor maupun lainnya padahal itu juga merupakan ulah dari tangan jahil mereka sendiri.
Dari berbagai kegiatan dalam rangka penghijauan masyarakat yang di lakukan oleh beberapa negara diantaranya adalah islamic foundation for Ecology and Environmental Science, yang berbasis di Birmingham, inggris. Sedang mengembangkan sejumlah program untuk institusi-institusi  keagaamaan di negara-negara islam di seluruh dunia. Pada akhir 2006, US Agency For International Development meluncurkan program pendidikan lingkungan hidup di Tanzania yang menargetkan 12.650 murid sekolah dasar dan 12.650 murid madarasah, melatih 20 guru SD dan 220 guru madrasah tentang masalah-masalah ekosistem pantai dan laut.
B.    Saran- saran
Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak terlepas dari hambatan. Oleh karena itu, kami senantiasa mengharapkan saran dan kritik dari teman-teman yang sifatnya membangun untuk pembuatan makalah selanjutnya. Semoga hal-hal yang telah kami angkat sebagai pembahasan dapat menjadi pedoman atau acuan bagi teman-teman untuk bisa mengkaji lingkungan hidup dalam islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s